Pendidikan Perdamaian di Sekolah

14 Juni, 2012 at 12:00 am

Oleh Ahmad Baedowi
Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta

Guru berperan penting dalam membina budaya damai supaya sekolah menjadi lingkungan yang sejuk dan indah tanpa kekerasan. Murid, guru, dan staf sekolah berinteraksi agar tercipta situasi yang mendukung perdamaian.

Akan tetapi, segala peristiwa dapat terjadi selama mereka berhubungan, termasuk konflik. Konflik dapat melibatkan murid dengan murid, guru dengan guru, murid dengan guru, dan unsur lain di sekolah. Konflik tidak dapat dihindarkan dan harus dikelola dengan baik supaya tidak mengalami eskalasi menjadi kekerasan terbuka.

Dalam praktek pendidikan, ada kecenderungan dalam proses belajar-mengajar yang perlu diperhatikan. Sebagai contoh, pendidikan di sekolah yang menekankan pengetahuan dan keterampilan akademik. Namun, dua komponen penting kurikulum lainnya, keterampilan sosial dan keterampilan hidup, sering tidak mendapatkan perhatian yang memadai.

Mengelola konflik secara konstruktif, menciptakan mekanisme penyelesaian masalah antarpribadi, dan membangun dialog adalah beberapa contoh kegiatan yang menekankan pada aspek pemberdayaan manusia daripada praktek-praktek tradisional yang represif. Model alternatif diyakini dapat mengembangkan kognisi dan emosi anak didik sehingga mereka menjadi orang yang memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap persoalan sosial.

Dalam konteks pendidikan perdamaian, guru memegang peranan sentral. Ini selaras dengan prinsip yang disepakati para pendidik, seperti tampak pada dokumen Pendidikan untuk Semua atau Education for All.

Salah satu prinsip yang tercantum dalam deklarasi yang dikeluarkan di Dakar pada 2000 itu ialah the primacy of teacher, guru sebagai hal yang primer dalam proses pendidikan.

Guru adalah bagian dari majelis guru yang dapat memainkan peran kunci dalam pendidikan perdamaian dan resolusi konflik. Tujuannya supaya warga sekolah (khususnya peserta didik) secara fisik dan psikologis bebas dari kekerasan, mendapat kesempatan bekerja dan belajar untuk mewujudkan tujuan bersama, dan menghargai perbedaan di sekolah.

Survei Lakip

Beberapa waktu lalu Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (Lakip) menyurvei 590 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di 10 kota di Jabodetabek. Pada saat yang sama survei juga dilakukan terhadap 993 siswa beragama Islam di SMP dan SMA negeri/swasta, di tempat guru PAI tersebut mengajar.

Hasil survei memperlihatkan tingkat dukungan responden, baik guru PAI maupun siswa, terhadap aksi kekerasan cukup tinggi. Tidak hanya itu, tingkat kesediaan responden untuk terlibat dalam aksi kekerasan juga tinggi. Hampir 3 dari 10 responden guru PAI dan hampir 5 dari 10 responden siswa menyatakan kesediaan mereka jika ada pihak yang memobilisasi untuk terlibat dalam berbagai aksi kekerasan terkait dengan isu agama.

Kesediaan untuk terlibat aksi radikal berlatar belakang agama terutama disebabkan responden cenderung membenarkan aksi kekerasan tersebut. Pada gilirannya, sikap menyetujui atau membenarkan aksi kekerasan itu disumbang oleh sikap intoleran dan pandangan keagamaan konservatif.

Sekolah yang sehat ialah sekolah yang damai tanpa kekerasan, tempat bagi murid, guru, orang tua, bertemu, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan damai, apapun latar belakang mereka dari sudut suku, kelas, agama, dan sosial. Program pendidikan bina damai (peace building) yang melibatkan guru dan siswa sangat jarang dilakukan. Pendidikan perdamaian dan manajemen konflik berbasis sekolah (MKBS) juga belum melembaga.

Mengelola Kemajemukan

Dalam rangka merespons temuan-temuan hasil riset Lakip tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diharapkan terlibat aktif mengembangkan program pendidikan bina damai di sekolah. Pendidikan bina damai penting untuk segera dilakukan mengingat angka-angka kekerasan di sekolah dari waktu ke waktu meningkat tajam. Pendidikan bina damai yang diterapkan di dunia pendidikan, khususnya di kelas dan sekolah, diharapkan dapat menekan aksi kekerasan di sekolah.

Dalam skenario manajemen konflik berbasis sekolah, beberapa topik yang sangat relevan dengan tingginya aksi-aksi kekerasan di lingkungan siswa ialah bagaimana mengenalkan tantangan perdamaian di lingkungan sekolah, mengajarkan keterampilan resolusi konflik, mengelola kemajemukan di sekolah, serta membuat program bina damai.

Jika hal itu terlambat dilakukan, secara akademis maupun secara sosial akan membuat rendahnya self-esteem siswa, yang pada akhirnya menyebabkan munculnya sikap agresif yang tak terkendali. (Sumber: Lampung Post, 14 Juni 2012).

About these ads

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Bahasa Daerah Menunggu Mati Pemaksaan Masuk RSBI


ISSN 2085-059X

  • 387,184

Komentar Terakhir

Alfian HSB on Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: