Membaca Mind Set Pelaku Pendidikan

21 Maret, 2012 at 12:00 am

Oleh Dr Djuwari MHum
Dosen STIE Perbanas Surabaya

Jasa dalam pendidikan berupa pelayanan yang berasaskan pada keterikatan pola perilaku pelaku-pelaku pendidikan. Pelaku-pelaku pendidikan di sini terdairi dari guru atau dosen dan staff pendukung atau karyawan. Dalam manajemen mutu terpadu (Total Quality Management/ TQM), terdapat gambaran yang sangat jelas bahwa mind set pelaku pendidikan itu tergambar di dalam mutu jasa pelayanan pendidikan yan diberikan kepada pelanggannya.

Mengapa demikian? Edward Sallis (1993), secara gamblang memberikan hubungan antarpelanggan yang ada di dalam lembaga pendidikan (sekolah atau perguruan tinggi). Ada tiga jenis pelanggan, menurut Edward Sallis. Pertama, pelanggan primer. Kedua, pelanggan sekunder. Dan yang ketiga pelanggan tersier.

Pelanggan primer adalah semua siswa atau mahasiswa yang langsung merasakan mutu jasa pendidikan. Pelanggan sekunder adalah orang tua mahasiswa atau masyarakat yang mengirimkan putra-putrinya ke sekolah atau institusi pendidikan. Adapun pelanggan tersier adalah semua pengguna lulusan atau pemerintah serta stakeholders lain yang terlibat dalam hubungan manfaat pendidikan yang dihasilkan oleh sekolah atau lembaga pendidikan.

Di antara tiga jenis pelanggan pendidikan di atas, ada benang merah terkait bagaimana proses mind set pelaku pendidikan bisa digambarkan dari mereka. Ada satu konsep lagi yang perlu dicermati. Ditinjau dari segi ikatan batin organisasi, pelanggan dibedakan menjadi dua. Pertama adalah pelanggan internal dan kedua pelanggan eksternal. Pelanggan internal adalah antarpelaku pendidikan di dalam isntitusi itu sendiri, misalnya antarguru atau antardosen, antar karyawan atau antara karyawan dan guru atau dosen.

Nah, dari ikatan benang merah itulah, maka mind set pelaku pendidikan di dalam sekolah atau lembaga pendidikan tampak jelas. Begini ilustrasinya. Jika mutu jasa pendidikan di dalam antar pelanggan internal jelek, maka akan berpengaruh terhadap mutu jasa pendidikan untuk pelanggan ekternal. Sebab, proses pendidikan pasti buruk akibat mutu jasa inernal pelanggan.

Misalnya saja, jika tidak ada hubungan harmonis di dalam sekolah atau lembaga pendidikan maka kinerja proses pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan itu akan berpengaruh. Mutunya pasti jelek.

Kinerjanya pasti terganggu. Dan, kinerja antar pelanggan internal itulah pasti menghasilkan mutu jasa pendidikan yang jelek pula kepada pelanggan eksternal.

Hubungan antarunit atau antarbagian di dalam sebuah sekolah atau lembaga pendidikan juga merupakan faktor pengaruh baik buruknya mutu jasa pendidikan. Jika di antara unit atau bagian itu ada masalah, yang berarti tidak adanya kerjasama yang baik karena ada kaitannya satu sama lain, maka hasil mutu yang diproses pasti jelek. Ini akan berakibat pada mutu proses pendidikan yang akan diterima oleh pelanggan eksternal.

Intinya adalah bahwa jika mutu pendidikan yang diterima pelanggan eksternal, primer, sekunder, dan tersier jelek, maka ini sekaligus memberi gambaran jeleknya mind set para pelaku pendidikan di dalam lembaga pendidikan itu sendiri. Jika terdapat ketidak puasan para pelanggan eksternal, baik primer, sekunder, maupun tersier, maka ini merupakan cerminan mind set para pelaku pendidikan yang ada di dalam sekolah atau lembaga pendidikan.

Jadi, gambaran tentang konsep pelanggan pendidikan yang diuraikan oleh Edward Sallis, sangat konsepsional sehinggah benang merah keterkaitan antar semua pelanggan dalam pendidikan bisa dipakai untuk meneropong bagaimana mind set pelaku-pelaku pendidikan di sekolah atau lembaga pendidikan.

Dari konsep itulah, TQM dalam pendidikan terapannya sangat penting, jika konsep-konsep yang digambarkan tentang pelanggan baik internal maupun eksternal itu diimplementasikan di lembaga pendidikan. Implementasinya adalah dengan cara mencari keterkaitan antar pelanggan sesuai dengan konsep-konsep pelanggan dalam pendidikan.

Selama ini, sekolah atau lembaga pendidikan masih belum semua memahami konsep pelanggan khusus terapannya di dunia pendidikan. Konsep pelanggan itu bisa dipakai untuk meneropong mind set pelaku-pelaku pendidikan di sebuah sekolah atau lembaga pendidikan. Konsep tersebut, dikaitkan dengan mutu jasa pendidikan dengan cara menelusuri benang merah keterkaitan antar pelanggan: internal dan eksternal. (Sumber: IndonesiaPos, 20 Maret 2012).

About these ads

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Kenaikan BBM dan Masa Depan Dunia Pendidikan Motif Memori dalam Pengajaran Puisi


ISSN 2085-059X

  • 424,636

Komentar Terakhir

Alfian HSB on Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: