Strategi Melatih Membaca Puisi Untuk Pelajar
Oleh Cucuk Espe
Penulis dan Pimpinan Teater Kopi Hitam Indonesia.
Bagaimana melatih atau mengajari anak (baca: siswa) membaca puisi? Serta adalah strategi yang ‘jitu’ melatih anak membaca puisi, terutama untuk kepentingan lomba atau festival? Adakah cara melihat bakat seorang anak di bidang seni, khususnya seni sastra (baca puisi)? Berbagai pertanyaan tersebut, semoga menemukan titik pencerahan dalam esai singkat ini.
Jujur saja, terlalu sering saya mendapat pertanyaan seperti tersebut, baik dari teman pengajar maupun pembina atau pelatih kesenian. Kegugupan diantara mereka pun memuncak manakala ‘musim’ festival seni pelajar. Membaca puisi menjadi salah satu materi lomba yang cukup banyak diminati, tingkat SD, SMP, maupun SMA. Seiring dengan banyaknya peminat, sejalan dengan ‘kebingungan’ para pelatih dan pengajar untuk meng-create anak didiknya yang terpilih menjadi pembaca puisi yang handal. Nah, di sinilah pertanyaan penting sering diajukan; adakah cara mujarab melatih anak menjadi pembaca puisi yang handal?
Sebenarnya agak cemas juga saya menjawab pertanyaan tersebut, mengingat hingga saat ini –dalam banyak literatur– tidak ada formulasi teknis strategi pelatihan membaca puisi bagi pelajar. Membaca puisi sejatinya adalah proses kreatif itu sendiri. Saya sering mengatakan kepada rekan pendidik dan pelatih kesenian, bahwa proses kreatif tidak didominasi oleh seniman yang menghasilkan karya seni saja. Dalam konteks ini, proses kreatif tidak hanya milik penulis, atau sastrawan saja. Ketika kita berani mencoba membawakan (membaca) karya sastra tersebut, juga disebut berproses kreatif. Tentu saja proses kreatif yang dilakukan anak berada pada fase yang sederhana sesuai perkembangan psikologis anak.
Sadar atau tidak, salah akar kesulitan dalam melatih membaca puisi berhasil kita identifikasi. Pada dasarnya, melatih anak membaca puisi adalah memberi ruang untuk melakkan proses kreatif. Dan bobot estetisnya sama dengan ketika sang penyair berproses melahirkan karya puisi tersebut. Tetapi realitasnya sering terjadi kesalahkaprahan bahwa membaca puisi hanyalah proses mekanis melatihkan anak membawakan unsur intrinsik puisi saja. Dengan tegas saya katakan, model pelatihan seperti itu hanya akan menghasilkan ‘robot-robot’ yang membaca puisi tanpa ada keterlibatan anasir batin.
Jika demikian, maka pendidik atau pelatih membaca puisi harus mampu menciptakan situasi yang kondusif sehingga mendorong atau memantik batin kreatif anak berproses. Salah satu hal yang mudah dilakukan dalam rangka membangun situasi kreatif adalah menciptakan kesejajaran batin antara pelatih atau pengajar dengan anak. Kesejajaran tersebut akan membuat anak enjoy dalam proses belajar membaca puisi. Akhirnya anak akan sangat menikmati kegiatan yang dilakukannya. Cukupkah hanya itu?
Bakat tak Menjamin
Setelah kita mengetahui akar persoalan melatih membaca puisi, yakni membaca puisi sejatinya adalah proses kreatif sastra juga, adakah hal lain yang patut kita perhatikan? Sebagai catatan awal untuk bahan renungan, saya ingin menyampaikan beberapa anasir penting terkait melatih anak membaca puisi. Pertama, sebelum memilih anak (siswa) yang dipercaya atau diyakini mampu membaca puisi dengan baik, kita harus mengetahui latar belakang kehidupan psikologis anak tersebut. Karena latar belakang psikologis ini akan mempengaruhi cara penghayatan terhadap teks puisi. Saya sarankan, pilihlah anak yang memiliki latar belakang psikis mirip dengan latar psikis teks puisi.
Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan sering mengajak anak dialog (ngobrol) dalam suasana kesejajaran secara psikis. Perlahan tanpa disadari arahkan pembicaraan hingga pada tema besar puisi. Sharing atau berbagi pengalaman batin akan membantu anak semakin nikmat menjalani proses kreatifnya. Fungsi upaya ini adalah menjadikan tema puisi sebagai tema yang sangat dekat dan ‘dimiliki’ anak sehingga memudahkan proses penghayatan.
Kedua, catatan berikutnya terkait dengan proses menjadikan ‘diri sendiri’ pada anak. Artinya, kita harus bisa menggiring anak menjadi dirinya sendiri. Tentu saja dengan segala kekurangan dan kelebihannya, anak harus mampu mengartikulasikan isi batin kreatifnya. Diakui atau tidak, selama ini sering kita temui –terutama di momentum lomba– peserta anak yang penampilannya menjadi ‘foto copy’ dari guru atau pelatihnya. Dalam istilah saya, anak tersebut telah kehilangan ke ‘diri’ annya. Sungguh proses kreatif yang keliru.
Di fase ini, pelatih atau guru harus berbesar hati menerima kenyataan psikologis anak yang dipilihnya membaca puisi. Pendeknya, bagaimana gesture, warna vokal, ekspresi dasar anak tersebut harus diterima dan diolah secara maksimal. Selama ini sering terjadi, sesuatu yang terberi (given) pada diri anak diberangus dan diganti oleh cara-laku guru atau pelatih yang dianggap lebih bagus. Ini adalah proses pelatihan yang tidak manusiawi karena membunuh kesempatan anak mengembangkan diri.
Ketiga, melatih membaca puisi pada anak ternyata tidak sekedar menjejali anak dengan teori membaca yang sangat mekanis. Sekali lagi membaca puisi tidak hanya persoalan teknik vokal, gesture, ekspresi, bloking, hingga kostum, tetapi ada hal lebih penting yang akan ‘mengatasi’ semua kebutuhan teknis tersebut. Dengan mengombinasikan dua catatan sebelumnya, guru atau pelatih harus mampu memantik kepekaan anak. Peka merupakan kondisi batin yang selalu bergerak atas dasar kesadaran hati. Anak yang peka –dalam konteks proses kreatif’ akan memiliki pengertian terhadap ruang, waktu, dan lingkungan dengan baik. Sekaligus, anak yang peka selalu mampu mengaktualisasikan diri dan pikiran serta perasaanya dengan baik.
Kepekaan batin inilah moda sangat penting dalam membaca puisi. Dengan batin-peka maka anak akan mampu menghayati setiap detail emosi dalam puisi. Jika penghayatan telah total –dan benar– maka cara baca yang meliputi pemenggalan, penekanan, tempo, vokal, ekspresi dipastikan benar. Kepekaan tersebut akan menuntun keseluruhan diri dalam membaca puisi. Oleh karena itu, seringkali anak membaca puisi dengan vokal dan akting meledak-ledak tetapi tetap terkesan artifisial. Bisa jadi ruh puisi (baca; tema besar) belum ditemukan. Sedangkan ruh puisi bisa ditemukan jika pembaca puisi memiliki kepekaan batin yang baik.
Demikianlah beberapa catatan terkait strategi melatih anak membaca puisi. Satu hal yang ingin saya tegaskan, membaca puisi bukan seutuhnya persoalan teknis, tetapi sebagian besar membaca puisi adalah persoalan batin-kreatif pembacanya. Jika kita mampu menyentuh batin anak, dalam rangka proses kreatif membaca puisi, dipastikan cara-baca anak akan lebih menarik. Anak akan menjadi diri sendiri dan menjadikan tema puisi yang kan dibaca sebagai milik batinnya. Itulah esensi melatih membaca puisi yang sebenarnya.
Selamat mencoba dan berlatih.

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: Cucuk Espe, Strategi Melatih Membaca Puisi Untuk Pelajar.




Komentar Terakhir