Pos PAUD sebagai Alternatif

24 Januari, 2012 at 12:00 am

Oleh Amat Djuri SPd
Kepala Seksi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada Bidang Pendidikan Nonformal Informal (PNFI) Dinas Pendidikan Kota Semarang

“Rangsangan pendidikan yang dilakukan di rumah dan di luar rumah seyogianya selaras dan saling mendukung”

Usia dini merupakan masa emas perkembangan karena pada masa itu terjadi lonjakan luar biasa perkembangan yang tidak terjadi pada periode berikutnya sehingga para ahli menyebutnya I>golden age. Untuk memacu potensi perkembangan itu anak butuh asupan gizi seimbang, perlindungan kesehatan, asuhan penuh kasih sayang, serta rangsangan pendidikan yang sesuai dengan tahap perkembangan dan kemampuannya.

Pemberian rangsangan pendidikan perlu dilakukan sejak lahir, bahkan sejak ia dalam kandungan. Rangsangan ini hendaknya dilakukan secara bertahap, berulang, konsisten, dan tuntas, sehingga memiliki daya ubah baginya. Seiring dengan bertambahnya usia, anak membutuhkan rangsangan pendidikan yang lebih lengkap, sehingga memerlukan tambahan layanan pendidikan di luar rumah yang bisa dilakukan oleh lingkungan ataupun lembaga pendidikan anak usia dini (PAUD).

Rangsangan pendidikan yang dilakukan di rumah (home base) dan di luar rumah (center base) seyogianya selaras dan saling mendukung sehingga bermanfaat secara optimal. Rangsangan pendidikan di luar rumah dapat dimulai setelah anak berusia 6 bulan, bahkan sebagian ahli merekomendasikan sejak anak berumur 3 bulan.

Sayang, belum semua lembaga pendidikan anak usia dini bisa memberikan layanan secara lengkap (holistic), dalam arti pemberian layanan berdasarkan kebutuhan dasar, yang menyangkut perawatan kesehatan dan gizi, stimulasi pendidikan, dan penciptaan lingkungan yang kondusif dalam belajar. Kalau pun ada, cakupannya terbatas, dan belum tentu terjangkau oleh masyarakat, baik dari sisi jarak maupun biaya.

Keberadaan pos pendidikan anak usia dini sebagai salah satu bentuk satuan PAUD sejenis dimaksudkan untuk menjembatani kebutuhan ini. Pos pendidikan anak usia dini dapat diintegrasikan dengan layanan bina keluarga balita (BKB) dan pos pelayanan terpadu (posyandu). Pos tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang belum siap mengikutsertakan anaknya dalam layanan yang lebih intensif, baik karena alasan kerepotan mengantar, biaya, maupun faktor lainnya.

Program Berlanjut

Tiga program tersebut dilaksanakan secara terintegrasi sehingga program pembinaan dan pengasuhan anak usia dini dapat berjalan lebih efektif dan efisien. Pengintegrasian ini merupakan upaya menyinergikan penyadaran dan peningkatan pemahaman orang tua dan keluarga yang memiliki anak usia dini. Penjabarannya dengan memberikan pelayanan kesehatan dasar, perbaikan gizi, stimulan, deteksi dini tumbuh kembang anak, serta intervensi layanan pendidikan dan keterampilan kepada orang tua dan anak selama mengikuti kegiatan.

Pendidik program pos pendidikan anak usia dini adalah anggota masyarakat yang dipilih oleh masyarakat dan menjalankan tugasnya secara sukarela. Adapun pengelolanya adalah kader yang ditunjuk atau diangkat oleh masyarakat dan dianggap mampu mengelola dan bertanggung jawab. Pnyelenggaranya adalah kader tim penggerak PKK.

Pendidikan pada pos ini bertujuan memberikan pedoman kepada para stakeholder yang terkait dan lembaga penyelenggara program tersebut. Sasaran langsung kegiatan ditujukan kepada anak usia 0-6 tahun, utamanya dari keluarga miskin. Khusus anak berkebutuhan khusus berhak memperoleh pendidikan khusus pula, serta dilayani secara insklusif sesuai dengan kapasitas yang dimiliki tiap kelompok pos pendidikan anak usia dini.

Terkait dengan kehidupan anak yang sebagian besar waktunya berada dalam pengasuhan keluarga maka orang tua menjadi sasaran tak langsung dari program ini. Sasaran tak langsung dimaksudkan agar orang tua mendapat bekal model pengasuhan yang tepat sesuai dengan usia dan tingkat kemampuan keterampilannya. Muaranya, kegiatan yang diberikan oleh pendidik dalam program ini secara terpadu dapat dilanjutkan di rumah oleh orang tua yang memiliki anak usia dini. (Sumber: Suara Merdeka, 24 Januari 2012).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Belajar Suka Bahasa Inggris Guru Arogan dan Berbohong


ISSN 2085-059X

Statistik Blog

  • 115,430

Komentar Terakhir

furniture-jati on Surat Pembaca
Guru MI on Surat Pembaca
boediharjoHs on Surat Pembaca
Sri Wahyuti on Surat Pembaca
Farah Irma Nurmala on Surat Pembaca
Yanto Musthofa on Surat Pembaca
nida on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.