Kebangkitan Industri Automotif

20 Januari, 2012 at 12:00 am

Oleh Muhammad Alfian Syah
Mahasiswa Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin, Makassar

Indonesia merupakan pasar automotif kedua terbesar di dunia. Namun, tidak satu pun produk asli Indonesia yang mampu menguasainya. Namun awal tahun 2012 secercah harapan muncul dari balik kesedihan tersebut.

Sekelompok siswa SMK dengan inovasi tinggi berhasil memproduksi sebuah mobil nasional (mobnas) yang menyedot perhatian besar masyarakat Indonesia. Sebenarnya Kiat Esemka bukanlah mobil nasional pertama yang berhasil diproduksi di Indonesia. Terdapat beberapa pendahulu Kiat Esemka yang terlebih dahulu mencoba menjajal pasar dalam negeri seperti Maleo pada 1996 maupun Timor pada pertengahan 1990-an.

Hanya, krisis dan berbagai masalah yang menghadang membuat produk tersebut tidak mampu bertahan. Masyarakat Indonesia tentu tidak ingin Kiat Esemka kembali harus mengikuti pendahulunya tersebut. Karena merupakan baby industry, berbagai tantangan dapat mengubur asa bangkitnya industri automotif dalam negeri yang coba dibangun kembali oleh Kiat Esemka.Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan agar kebangkitan industri automotif ini tidak hanya menjadi harapan semu belaka.

Pertama, perlu ada filter terhadap produk impor. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta jiwa menjadi sasaran empuk bagi produk impor. Data statistik bahkan berkata bahwa ketergantungan kita terhadap produk automotif luar negeri terbilang cukup tinggi dan meningkat dari tahun ke tahun. Kita tidak dapat membatasi produk-produk yang ingin menjajal pasar lokal,namun dengan penetapan pajak progresif akan mengakibatkan masyarakat akan berpikir dua kali untuk mengonsumsi produk tersebut.

Kedua,perlu ada peningkatan efisiensi dalam berproduksi. Kendala yang dihadapi oleh industri terdahulu adalah biaya produksi yang terbilang cukup tinggi mengakibatkan produk tersebut harus hilang sebelum muncul ke pasar. Pemberian subsidi, penyediaan bahan baku,maupun akses pasar yang mudah cukup mampu mendorong terciptanya efisiensi tersebut.

Ketiga, kualitas. Sebagai industri yang mencoba menjajaki pasar lokal,variabel kualitas menjadi faktor penentu eksistensi industri tersebut. Pasar lokal yang kini dikuasai produk impor memaksa industri dalam negeri untuk menjamin kualitasnya tidak kalah dengan produk impor.Masalah yang dihadapi dalam menjaga kualitas adalah keterbatasan modal.

Karena itu, baik pemerintah maupun swasta harus didorong untuk berani menginvestasikan modalnya sehingga ketika kebutuhan akan modal bukan lagi menjadi sebuah permasalahan, diharapkan dengan sendirinya peningkatan kualitas akan semakin terjamin. (Sumber: Seputar Indonesia, 20 Januari 2012).

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Mobnas dan Kompetisi Global Esemka Uji Nyali Pemerintah


ISSN 2085-059X

Statistik Blog

  • 115,440

Komentar Terakhir

furniture-jati on Surat Pembaca
Guru MI on Surat Pembaca
boediharjoHs on Surat Pembaca
Sri Wahyuti on Surat Pembaca
Farah Irma Nurmala on Surat Pembaca
Yanto Musthofa on Surat Pembaca
nida on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.