Tantangan Guru dan PGRI

25 November, 2011 at 12:00 am

Oleh Adi Prasetyo
Ketua PGRI Kabupaten Semarang

”Sebagian masyarakat merasakan tidak ada perubahan yang signifikan dari aspek profesionalisme guru”

Kesejahteraan guru dewasa ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan era sebelumnya. Tanggal 25 November, merupakan hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), dan berdasarkan Keppres Nomor 78 Tahun 1994 juga ditetapkan sebagai Hari Guru Nasional.

Momentum inilah yang rasanya tepat untuk kembali introspeksi dan mengevaluasi diri agar bisa memberikan kontribusi lebih besar lagi kepada dunia pendidikan.

Saat ini guru menjadi salah satu profesi yang banyak diminati. Hampir semua perguruan tinggi yang menyelenggarakan program keguruan dan kependidikan dibanjiri peminat. Kondisi itu tidak kita jumpai pada masa lalu. Kelahiran UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru diyakini sebagai faktor yang memberi nilai tambah bagi profesi guru.

Regulasi ini memberikan payung hukum terhadap kewajiban pemerintah dalam rangka mewujudkan guru yang sejahtera, bermartabat, profesional, dan terrlindungi. Di samping itu, guru juga dituntut memiliki kompetensi paedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian.

Perlahan tapi pasti, keseriusan pemerintah untuk memperbaiki nasib guru sudah mulai dirasakan, meski belum optimal, dan belum semua merasakan. Justru yang sekarang ramai disorot adalah kinerja guru setelah ada peningkatan kesejahteraan.

Sebagian masyarakat merasakan tidak ada perubahan yang signifikan dari aspek profesionalisme guru. Hal ini tercermin dari cara guru mengajar, mencari bahan dan sumber belajarnya, media yang dipakai, sampai dengan teknik evaluasinya, masih dirasakan konservatif. Pola itu dianggap tidak bisa mengantisipasi pesatnya perkembangan iptek untuk mendukung proses belajar mengajar.

Pada sisi yang lain, lingkungan sekolah (peserta didik dan orang tua) jauh lebih moderat menyikapinya. Semua perkembangan iptek diakses dengan berbagai cara sehingga tidak jarang wawasan siswa melebihi gurunya. Kondisi ini tidak boleh dibiarkan, harus ada upaya lebih serius, terutama dari guru, untuk mengubah fenomena itu.

Guru dituntut senantiasa mengembangkan kemampuan profesional dan paedagogiknya melalui berbagai cara. Sebagai seorang profesional, ia harus memiliki ciri-ciri sebagai peneliti dan berani mengambil risiko (risk taker). Selain itu, harus banyak tahu hal yang up to date mengenai materi yang akan diajarkan. Jika itu bisa dilakukan oleh seorang pendidik maka performance guru di hadapan siswa akan lebih baik lagi.

Perubahan nasib guru dewasa ini tidak terlepas dari jerih payah PGRI. Organisasi profesi itu tak kenal lelah memperjuangkan terwujudnya guru yang sejahtera, profesional, bermartabat, dan terlindungi. Lahirnya UU tentang Guru dan Dosen, yang dibidani oleh PGRI, menjadi momentum bersejarah titik awal perbaikan nasib guru.

Jalin Kemitraan

Sekarang ini banyak guru merasakan hasil perjuangan organisasi yang mewadahi keberadaan mereka. Meskipun demikian, sejumlah persoalan masih mewarnai dunia pendidikan. Misalnya distribusi guru yang tidak merata, ditandai dengan penumpukan SDM pada satu daerah, sementara daerah lain kekurangan guru, perlu segera diantisipasi.

Perlindungan hukum bagi guru adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Fenomena guru yang diduga melakukan kekerasan pada anak, menjadi momok bagi korpsnya. Harus segera dicari jalan tengah agar anak tetap terlindungi tetapi guru leluasa menerapkan metode pembelajaran, tanpa dibayangi rasa takut akan dugaan melakukan kekerasan terhadap anak.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah rendahnya anggaran pendidikan yang dialokasikan daerah. Dari sisi jumlah memang sudah di atas 20 persen dari anggaran namun itu termasuk belanja pegawai. Jumlah yang relatif kecil tersebut lebih banyak untuk pembangunan fisik, sedangkan peningkatan kompetensi guru belum mendapatkan alokasi yang layak.

Ke depan, tantangan PGRI masih cukup banyak dan berat. Perlu kerja keras komponon organisasi pada semua tingkatan. Yang tidak kalah pentingnya adalah membangun hubungan yang harmonis dengan semua mitra organisasi. (Sumber: Suara Merdeka, 25 November 2011).

About these ads

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Saatnya Tingkatkan Kompetensi Keaktifan Guru dalam Berkarya


ISSN 2085-059X

  • 345,860

Komentar Terakhir

Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca
Roni Yusron on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: