Pengembangan Model Peningkatan Kualitas Guru Melalui Pelatihan Lesson Study Bagi Guru SD Eks Karesidenan Surakarta

16 November, 2011 at 12:00 am

Oleh Tjipto Subadi
Dosen Universitas Muhammadiyah Surakarta

Abstract

This study aims to examine and identify a problem of the Primary School teachers of Surakarta Residency in developing a model for improving a quality through lesson study training, a conceptual model for improving the Primary School teachers’ quality through lesson study training, and model validation for improving the Primary School teachers’ quality through lesson study theoretically. This study used an approach of descriptive-qualitative phenomenology by using a social definition. It was included in the class action and its subjects were the Primary School teachers of Surakarta. The informants of this study were the teachers, headmasters, and supervisors. The data gathering employed questionnaires, interview, and observation. The data analysis used the first order understanding and second order understanding with an interactive model, including data reduction, data display, and conclusion/verification. The findings showed that a problem of the Primary School teachers is internal (teachers) and external (students, headmasters, supervisors, curriculum and facilities). The problem ranges from the most difficult (17.28%), the more difficult (30.88%), the difficult (33.99%) to the least difficult/easiest (17.85%). The lesson study conceptual model is based on a modified action class research. The effective and creative learning technique used the Improvement Model of Quality of Cooperative. The model validation employed an academic-administrative, conceptual, learning action, and professional.

Keywords: lesson study, first order understanding and second order understanding

PENDAHULUAN

Kualitas Pembelajaran di suatu tingkat pendidikan baik SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK maupun PT paling sedikit dipengaruhi oleh tiga faktor, yakni; siswa (raw input) dengan segala karakteristiknya, alat pendukung terjadinya pembelajaran (instrumental input), dan suasana sekitar tempat terjadinya pembelajaran (environmental input). Setiap input terjadi atas beberapa komponen. Raw input, misalnya terdiri atas semua karakteristik siswa antara lain; minat, bakat, kecerdasan, dan kematangan. Instrumenlat Input mencakup antara lain; guru, tujuan, kurikulum, buku ajar, metode atau pendekatan pembelajaran, media, alat evaluasi, dan sarana atau prasarana. Sedangkan Environmental Input mencakup lingkungan fisik, misalnya; bangunan, lokasi, suhu, dan lingkungan non fisik, seperti; keluarga dan masyarakat.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan kompetensi guru juga banyak faktor yang harus diperhatikan, seperti: guru, siswa, sarana dan prasarana, laboratorium dan kelengkapannya, lingkungan dan manajemennya. Upaya meningkatkan kualitas tersebut dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan, misalnya pendekatan internal dengan memanfaatkan guru yang lebih berpengalaman sebagai pelatih, pendekatan eksternal dengan mengirimkan guru untuk mengikuti workshop dan pelatihan, studi lanjut, dan dengan pendekatan kemitraan melalui kerjasama antara sekolah dan perguruan tinggi. Guru yang baik harus tampil dengan kemampuan yang terbina dari dalam dirinya, ia juga harus mampu membuktikan kemampuan profesionalnya untuk menerima amanah sebagai pendidik yang tangguh, guru sebagai pelaksana dari apa yang telah dipikirkan oleh pengambil kebijakan agar ia berfikir logis, kritis, kreatif, dan refleksif dalam meningkatkan mutu pembelajarannya, dan melaksanakan hasil pemikirannya ini dalam pembelajaran di kelas.

Sekolah Dasar sebagai salah satu lembaga pendidikan dasar memiliki fungsi yang sangat fundamental dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Dikatakan demikian karena Sekolah Dasar merupakan dasar/fondasi dari proses pendidikan yang ada pada jenjang berikutnya.

Permasalahan, bagaimana meningkatkan kualitas pembelajaran untuk mencapai out-put pendidikan yang berkualitas? Danim, (2003) dalam Sa’adun dkk (2006:1) mengemukakan bahwa persoalan utama yang dihadapi dalam pengelolaan Sekolah Dasar saat ini bukan saja terletak pada sisi efisiensinya, tetapi juga masalah mutu, akses dan peluang pengembangan. Permasalah lain masih rendahnya kemampuan membaca kritis pada siswa Sekolah Dasar, data IEA menunjukkan bahwa penguasaan membaca kritis siswa Sekolah Dasar sebesar 36,1%. Pendekatan yang cocok dan telah teruji untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah lesson study.

Tujuan Penelitian, mengungkapkan dan memahami: (1) identifikasi masalah yang dihadapi guru-guru SD dalam mengembangkan model peningkatan kualitasnya, seberapa besar tingkat kesulitan dalam penerapan peningkatan kualitas guru melalui pelatihan lesson study bagi guru SD Eks Karesidenan Surakarta, (2) model konseptual peningkatan kualitas guru melalui pelatihan lesson study bagi guru SD, (3) validasi model/pengujian efektivitas model untuk peningkatan kualitas guru secara teoritis melalui pelatihan lesson study bagi guru SD.

Tinjauan Pustaka. Undang Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen menjelaskan bahhwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Dalam rangka melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, diterbitkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dalam peraturan tersebut, dijelaskan bahwa Standar kompetensi guru dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional.

Sebagai perbandingan, di salah satu Negara bagian Amerika Serikat yaitu Florida. Menurut Suell dan Piotrowski (2006) Negera menetapkan 12 kompetensi guru yang dikenal sebagai “Educator Accomplished Practices” yaitu meliputi: (1) penilaian, (2) komunikasi, (3) kemajuan berkelanjutan, (4) pemikiran kritis, (5) keaneka ragaman, (6) etika, (7) pengembangan manusia dan pelajaran, (8) pengetahuan pokok, (9) belajar lingkungan, (10) perencanaan, (11) peran guru, dan (12) teknologi. (http://proquest.umi.com diakses pada 12 Juni 2009 12:15)

Guru adalah jabatan dan pekerja profesioal, indikator untuk mengukur keprofesionalan adalah jika kelas yang diasuh menjadi “surganya siswa untuk belajar”, atau “kehadiran seorang sebagai guru di kelas selalu dinantikan siswa”. (Sugiyanto 2008: 5). Sudahkah pembelajaran kita mencapai kondisi yang demikian? Selain tugas profesianal tersebut guru juga harus berperan sebagai sumber belajar, fasilitator, pengelola, demonstrator, pembimbing, motivator dan evaluator. Jika peran ini dijalankan dengan baik dan benar maka usaha memberikan pelayanan pembelajaran yang optimal kearah pendekatan Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) Insya Allah dapat dicapai. Perlu diingat bahwa kemampuan menerapkan pendekatan PAIKEM tersebut diperlukan model pembelajaran yang inovatif. Joyce dan Weil (1986) menjelaskan bahwa hakikat mengajar adalah membantu siswa memperoleh informasi, ide, ketrampilan, nilai, cara berfikir, sarana untuk mengekspresikan dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar. Banyak model atau strategi pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli dalam usaha meningkatkan kualitas guru. Diantaranya adalah Model Pembelajaran Kontektual, Model Pembelajaran Quantum, Model Pembelajaran Terpadu, Model Pembelajaran Berbasis Masalah dan, Model Pembelajaran Kooperatif.

Model Pembelajaran Kooperatif ini dikembangkan menjadi enam model yaitu (1) Student Teams Achievement Division (STAD) (2) Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) (3) Jigsaw (4) Learning Together (5) Group Investigation, dan (6) Cooperative Scripting. Teknik pembelajaran yang hampir sama dengan teknik di atas adalah Metode Struktural. Metode ini dikembangkan oleh Spencer Kagan, metode ini menekankan pada struktur-struktur khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola-pola interaksi siswa. Yang termasuk teknik pembelajaran ini adalah; (1) Mencari Pasangan (2) bertukar pasangan (3) Berkirim Salam dan Soal (4) Bercerita Berpasangan (5) Dua Tinggal Dua Tamu (6) Keliling Kelompok dan (7) Kancing Gemerincing.

Lesson study berasal dari Jepang dari kata; jugyokenkyu yaitu suatu proses sistematis yang digunakan oleh guru-guru Jepang untuk menguji keefektifan pengajarannya dalam rangka meningkatkan hasil pembelajaran (Garfield, 2006). Proses sistematis yang dimaksud adalah kerja guru-guru secara kolaboratif untuk mengembangkan rencana dan perangkat pembelajaran, melakukan observasi, refleksi dan revisi rencana pembelajaran secara bersiklus dan terus menerus. Menurut Lewis (2002) ide yang terkandung di dalam lesson study sebenarnya singkat dan sederhana, yaitu jika seseorang guru ingin meningkatkan pembelajaran, salah satu cara yang paling jelas adalah melakukan kolaborasi dengan guru lain untuk merancang, mengamati dan melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang dilakukan.

Lesson Study bertujuan untuk melakukan pembinaan profesi pendidik secara berkelanjutan agar terjadi peningkatan keprofesionalan pendidik terus menerus. Kalau tidak dilakukan pembinaan terus menerus maka keprofesionalan dapat menurun dengan bertambahnya waktu. Pembinaannya melalui pengkajian pembelajaran secara terus menerus dan berkolaborasi. Pengkajian pembelajaran harus dilakukan secara berkala, misalnya seminggu sekali atau dua minggu sekali karena membangun komunitas belajar adalah membangun budaya yang memfasilitasi anggotanya untuk saling belajar, saling koreksi, saling menghargai, saling bantu, dan saling menahan ego.

Secara teoritis menurut Saito dkk (2005). Lesson study dilaksanakan dalam 3 siklus; yaitu (1) merencanakan (plan), (2) melaksanakan (do) pembelajaran dan observasi (3) refleksi (see) terhadap perencanaan dan implementasi pembelajaran tersebut, dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Secara sederhana siklus tersebut seperti gambar di bawah ini.

Siklus Pembelajaran Lisson Study

Dengan mencermati definisi lesson study tersebut di atas, maka setidaknya ditemukan 7 (tujuh) kata kunci, yaitu; 1) pembinaan profesi, 2) pengkajian pembelajaran, 3) kolaborasi, 4) berkemajuan, 5) kolegalitas, 6) mutual learning, dan 7) komunitas belajar.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif fenomenologi, terutama untuk mengkaji tujuan penelitian poin nomor 1. Desain penelitiannya adalah, PTK (Penelitian Tindakan Kelas) terutama untuk mengkaji tujuan penelitian poin nomor 2 dan 3. Subyek penelitian adalah guru-guru SD (4 orang guru dari Kadya Surakarta, 4 orang guru dari Kab. Sukoharjo, 4 orang guru dari Kab. Klaten,  4 orang guru dari Kab. Wonogiri, 4 orang guru dari Kab. Boyolali, 4orang guru dari Kab. Sragen, dan 4 orang guru dari Kab. Karanganyar). Informan penelitian adalah; guru, Kepala Sekolah, Pengawas, Pakar lesson study (dosen). Metode pengumpulan datanya menggunakan angket, wawancara mendalam dan observasi.  Proses wawancara mendalam sampai memperoleh interpretasi dari informan, dan kemudian peneliti menginter pretasikan interpretasi informan tersebut sampai memperoleh bahasa ilmiah yang tidak merubah makna dari interpretasi pertama. Dalam hal ini Berger (dalam Tjipto Subadi, 2009) menyebutnya dengan first order understanding dan second order understanding. Analisis data menggunakan tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu; reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:15-21).

 

KESIMPULAN

  1. Permasalahan yang dihadapi guru SD dalam pengembangan model peningkatan kualitas melalui pelatihan lesson study adalah permasalahan internal (permasalahan yang bersumber dari guru) dan permasalahan eksternal (permasalahan berasal dari siswa, kepala sekolah, pengawas, kurikulum, lingkungan sekolah, sarana dan prasarana).
  2. Tingkat kesulitannya ditunjukkan dengan pencapaian skor rata-rata untuk seluruh komponen pengembangan yang disebut tingkat kesulitan berfariatif yakni; sangat banyak mengalami kesulitan (17,28%), cukup banyak mengalami kesulitan (30,88%), sedikit mengalami kesulitan (33,99%) dan, merasa sangat mudah (17,85%).
  3. Model konseptual lesson study sebagai model peningkatan kualitas guru SD  adalah Model Lesson Study Modifikasi.
  4. Teknik pembelajaran yang kreatif dan efektif adalah Improvement Model of Quality of Co-Operative, model ini di samping mengembangkan aspek akademik yang tinggi di kalangan siswa, juga bermakna dalam membantu guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial.
  5. Validasi model peningkatan kualitas guru adalah (a) Validasi administrasi akademik (menghasilkan model RPP), (b) Validasi konsep (menghasilkan lesson study modifikasi), (c) Validasi aktivitas pembelajaran (menghasilkan implementasi lesson study melalui empat tahap yaitu; tahap pengkajian/orientasi akademik (Akadekic oriended), tahap perencanaan (plan), tahap pelaksanaan dan observasi (do) dan, tahap tindak lanjut (refleksi). (c) Validasi pakar (menghasikan model pembelajaran kooperatif yang kreatif dan efektif yaitu  Improvement Model of Quality of Co-Operative.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Berger, P. and  T. Luckman. 1967. The Social Construction of Reality. London. Allen Lane.

Garfield, J. 2006. Exploring the Impact of Lesson Study on Developing Effective

Joyce, Bruce dan Weil, Marsha, 1986, Model of Teaching, New Jersey: Prentice Hall, Inc.

 

Lewis, Catherine C. 2002. Lesson study: A Handbook of Teacher-Led Instructional Change. Philadelphia, PA: Research for Better Schools, Inc.

Miles, B. M., Michael, H., 1984, Qualitative Data Analisys, dalam H.B. Sutopo, Taman Budaya Surakarta dan Aktivitas Seni di Surakarta, Laporan Penelitian, FISIPOL UNS. Surakarta.

__________, 1992, Analisis Data Kualitatif, Jakarta: UI Press

Saito, E. Imansyah. H. dan Ibrohim. 2005. Penerapan Studi Pembelajaran di Indonesia: Studi Kasus dari IMSTEP. Jurnal Pendidikan “Mimbar Pendidikan.  No.3. Th. XXIV: 24-32.

Saito, E. 2006. Development of school based in-service teacher training under the Indonesian Mathematics and Science Teacher Education Project. Improving Schools. Vol.9 (1): 47-59.

Subadi, T. 2009. Pengembangan Model untuk Meningkatkan Kualitas Guru Melalui Pelatihan Lesson Study Di Sekolah Dasar Kota Surakarta. Dalam Jurnal terakreditasi Sekolah Dasar Kajian Teori dan Praktik Pendidikan. Tahun 18.Nomor 2. November  2009. Malang

________. 2009. Sosiologi dan Sosiologi Pendidikan : Suatu Kajian Boro dari Perspektif Sosiologis Fenomenologis). Farius Media Duta Permata Ilmu, Surakarta.

Sugiyanto, 2008, Model-Model Pembelajaran Inovatif, Modul PLPG, Panitia Sertifikasi Guru (PSG) Rayon 13, UNS, Surakarta. e-mail tjiptosubadi@yahoo.com

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Pendidikan Setelah Otonomi Daerah Patokan Gaji Guru Swasta


ISSN 2085-059X

  • 423,916

Komentar Terakhir

Alfian HSB on Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: