Memacu Kinerja Kasek dan Guru

14 November, 2011 at 12:00 am

Oleh Zulkifli Agus

Pengawas TK/ SD UPTD Pendidikan Kecamatan Genuk Semarang

“Indikator tingginya kinerja kepala sekolah dan guru terlihat dari kenyataan lulusan sekolah mereka dalam kehidupan nyata”

Pasal UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) menyebutkan pendidikan nasional antara lain bertujuan mengembangkan kemampuan dan membentuk karaker serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena itu, pendidikan merupakan tanggung jawab pemerintah, masyarakat, dan orang tua, melalui tiga jalur, yaitu formal, nonformal, dan informal.

Jalur formal dan nonformal melibatkan guru dan kepala sekolah (kasek). Dua unsur ini memegang peranan strategis dalam proses pendidikan. Boleh dikatakan mereka merupakan the man behind the gun bila kita ingin membidik suatu sasaran dengan senapan. Ketepatan sasaran dan hasil yang akan diperoleh berada di tangan keduanya.

Hasil dari kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan, seperti terciptanya kesetaraan, ketersediaan, keterjangkauan, kepastian, serta mutu, daya saing dan relevansi pendidikan, tidak bakal optimal tanpa sentuhan tangan dingin kepala sekolah dan guru. Apakah kinerja mereka sudah mampu mendukung fungsi dan tujuan pendidikan seperti diamanatkan UU Sisdiknas?

Hasil survei UNDP tahun 2007 menyebutkan human development index (HDI) bangsa Indonesia menduduki ranking 112 dari 117 negara yang diteliti. Berarti kita hampir menduduki posisi kunci dari negara yang diteliti. Meski hasil survei mengenai HDI tidak semata-mata dari sisi pendidikan, indikator itu cukup memprihatinkan mengingat tahun 1960-1970-an Malaysia dan Singapura masih ‘’mengimpor’’ guru dari Indonesia.

Beberapa penyebab rendahnya mutu pendidikan, sebagaimana pernah dirilis Kemendikbud (dulu Kemendiknas) melalui Ditjen Peningkatan Mutu Pendidikan, karena kepala sekolah sibuk dengan pekerjaan teknis. Mereka belum melaksanakan dengan optimal tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dan belum menerapkan manajemen strategis.

Guru pun kurang memiliki motivasi kuat dan tidak respek pada penelitian tindakan kelas. Selain itu, pramatis dalam melaksanakan tugas pembelajaran, serta tidak kreatif dan tidak inovatif. Meski sudah mengantongi sertifikat profesi, kinerja mereka tidak atau belum berubah. Masih banyak guru yang mengajar di luar keahlian demi mengejar ketentuan jumlah jam minimal yang harus mereka penuhi, yaitu 24 jam seminggu.

Guru juga jarang dan atau tidak tertarik melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK) untuk meningkatkan mutu proses pembelajaran. Bahkan guru yang sudah mengikuti pelatihan dalam jabatannya pun tidak mengaplikasikan sehingga tidak memberikan hasil signifikan terhadap perbaikan kualitas proses pembelajaran di kelas.

Secara garis besar kinerja guru dapat dilihat dalam Permendiknas Nomor 26 Tahun 2007 yang sejalan dengan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dua regulasi itu menegaskan guru itu harus memiliki empat kompetensi, yaitu kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Parameter yang langsung bersinggungan dengan proses belajar mengajar adalah kompetensi pedagogik. Dalam kompetensi ini guru dituntut menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, dan intelektual. Selain itu, harus menguasai teori belajar dan prinsip pembelajaran yang mendidik, serta mengembangkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengembangan yang diampunya.

Kualitas pendidikan memang bertumpu pada kinerja keduanya. Bila kinerja mereka bagus dan tinggi maka kualitas pendidikan di sekolah pun meningkat. Ciri kasek dan guru yang memiliki kinerja tinggi antara lain mencintai profesi dengan dedikasi tinggi, bertanggung jawab terhadap profesinya, dan menjaga citra positif sebagai seorang profesional.

Secara sederhana, indikator tingginya kinerja kepala sekolah dan guru terlihat dari kenyataan lulusan sekolah mereka dalam kehidupan nyata. Bila lulusan sekolah mereka mampu memenangi persaingan dalam meraih peluang dan kesempatan hidup yang lebih bermakna di tengah masyarakat, berarti kinerja mereka sudah sesuai dengan apa yang kita harapkan. (Sumber: Suara Merdeka, 14 Nopember 2011)

About these ads

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , .

Menelisik Jati Diri Kepahlawanan Menangkal Predikat Gaptek


ISSN 2085-059X

  • 408,569

Komentar Terakhir

Alfian HSB on Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: