‘Murwokolo’

18 Mei, 2011 at 12:00 am

Oleh Sudjarwo
Guru Besar FKIP Unila

Syahdan dalam jagad pewayangan Raja Para Dewa Betara Guru memiliki putra dari hasil pernikahan yang penuh dengan aroma angkara murka, yaitu Betara Kala. Perwujudan dari Betara Kala ini ialah raksasa yang amat bengis. Beliau ini mendapat jatah untuk memangsa manusia yang berposisi: ontang-anting, yaitu anak tunggal; pendawa lima, yaitu anak lima laki-laki semua; sendang kapit pancuran, yaitu anak wanita yang diapit saudara abangnya laki-laki dan adiknya juga laki-laki. Julung caplok, yaitu anak yang lahir tepat dengan terbenamnya matahari; julung kembang, yaitu anak yang lahir tepat terbitnya matahari. Masih ada beberapa lagi yang jika dituliskan akan memperpanjang alinea saja. Namun, semua mereka itu disebut sebagai anak sukerto atau anak yang “bermasalah”.

Inti pokok dari semua itu adalah Betara Kala diberi otoritas oleh ayahnya untuk mencederai manusia yang berposisi secara waktu berada pada waktu yang tidak tepat. Anak-anak seperti ini jika ingin selamat untuk tidak dimangsa Betara Kala harus diruwat terlebih dahulu oleh ki dalang.

Tamsil di atas menunjukkan bagaimana manusia sebenarnya dalam hidup di samping menerima kesuksesan, juga harus ikhlas menerima kegagalan. Kesuksesan dan kegagalan adalah dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Demikian seyogianya ajaran ini disampaikan kepada seluruh anak bangsa ini sehingga tatkala mereka berhadapan dengan ujian, termasuk ujian nasional (UN), harus juga diwartakan kepada anak bahwa tidak lulus adalah bagian dari risiko menghadapi ujian.

Hal ini penting karena banyak sekali di antara kita yang tidak mau mengerti bahwa risiko ujian (baca: hidup) itu ada dua, yaitu gagal atau sukses. Pengalaman penulis pada waktu menguji para calon magister dan calon doktor, pada waktu pembukaan ujian memberi pemahaman kepada promovendus bahwa ujian ini berisiko dua, yaitu lulus dan tidak lulus, apakah mereka siap menerima risiko untuk tidak lulus, jarang sekali promovendus yang menjawab siap dengan tegas. Banyak di antara mereka mengatakan maunya lulus. Padahal kelulusannya sangat tergantung kepada dirinya sendiri dalam menjawab keberatan-keberatan para penguji.

Dari gambaran ini, maka orang-orang tua dulu sebenarnya sudah mengajarkan kepada generasinya untuk selalu bersiap jika gagal. Tidak seperti sekarang, semua serbaingin lulus, termasuk mencalonkan diri pada apa pun, maunya lulus. Begitu tidak lulus mulai semua dituding bersalah, tidak pernah menuding dirinya yang salah. Ini bisa dilihat dari komplain setiap calon kepala daerah, calon anggota DPR, calon gubernur, atau calon lainnya, bahkan siswa SMA yang sedang UN, jika tidak lulus dalam ujian, mereka ramai-ramai untuk komplain dengan bersuuzan kepada pihak lain.

Menerima kegagalan, ketidakberhasilan, ketidaksuksesan secara lapang dada adalah bagian dari pendidikan karakter bangsa. Oleh sebab itu, memberikan drilling untuk selalu sukses pada anak didik, jika tidak diimbangi dengan juga kesiapan mental untuk gagal, pendidikan seperti ini adalah pengingkaran terhadap kodrat manusia. Gagal dan sukses adalah dua kodrat yang harus dijalani oleh manusia.

Kehadirannya tidak dapat ditolak atau diminta karena keduanya memiliki jantra hidup yang berputar pada poros ketentuan nasib oleh Sang Pencipta, dan itu adalah bagian dari kontrak yang kita tanda tangani saat akan lahir di dunia ini. Hanya kita wajib berucap syukur akan adanya anugerah lupa, sebab jika kita tidak dianugerahi lupa, hidup di dunia ini akan kita hindari. Jika itu terjadi, habislah makhluk yang bernama manusia, dan itu juga berarti pengingkaran terhadap keilahian. Lupa adalah anugerah yang datang dari Tuhan yang harus kita syukuri, tetapi juga merupakan ladang amal yang luas untuk kita tanami.

Peristiwa pengumuman hasil ujian yang setiap tahun menjadi ritual, sering muncul dengan corak ragam yang sama. Konvoi kendaraan, coret-coret baju bagi yang lulus. Mereka lupa ritual seperti itu adalah ritual jahiliah yang merupakan murwokolo modern. Untuk itu sudah sepantasnya dari jauh hari ini sekolah sudah mempersiapkan agar mereka tidak melakukan hal-hal yang menjadikan anak sukerto.

Belum lagi kalau kita lihat bagaimana persoalan bangsa ini yang melilit begitu banyak persoalan-persoalan yang besar, sepertinya tidak pernah berakhir. Ada saja yang muncul. Belum selesai satu persoalan sudah muncul persoalan baru. Seolah-olah bangsa ini kena sukerto yang harus diruwat agar tidak hancur dimakan Betara Kala.

Semua sekarang berpulang kepada pemimpin bangsa ini. Kondisi sekarang sudah tidak tepat lagi dipimpin dengan tipe kepemimpinan yang lembek, mengutamakan pencitraan semata. Bangsa ini sudah amat segera diselamatkan dari kehancuran dari dalam. Semua kita harus berperan untuk segera menghilangkan sukerto bangsa ini, sesuai dengan kemampuan dan bidang masing-masing yang digeluti setiap hari.

Secara ontologi esensi kehidupan menjadi kering karena ukuran keberhasilan hanya dilihat dari sudut pandang pencitraan, bukan target yang terukur dalam pengertian berapa banyak masyarakat yang dapat menikmati keberhasilan. Oleh karena itu, masyarakat menjadi jengah karena melihat tontonan setiap hari yang dipertontonkan oleh para elite penguasa tidak sejalan antara ucapan dan perbuatan. Sebab itu, tidaklah salah jika kita mengusulkan kepada para dalang agar memasukkan kepada kelompok sukerto para pemimpin yang berperilaku tidak sesuainya ucapan dengan perbuatan. (Sumber: Lampung Post, 18 Mei 2011)

About these ads

Entry filed under: Artikel Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tags: , .

Relasi UN 2011 dengan LPMP Lampung Mengapa Harus Mengajarkan Karakter?


ISSN 2085-059X

  • 413,594

Komentar Terakhir

Alfian HSB on Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: