Pajangan Kelas, Pentingkah?

22 Januari, 2010 at 12:18 am

Oleh Primma Russanti
Guru kelas 5 di SD Ciputra, Surabaya

Beberapa tahun lalu saat saya masih duduk di sekolah dasar, ruang kelas saya hanya terdiri dari meja kursi siswa, meja kursi guru, papan tulis, lemari, gambar pahlawan, peta, gambar presiden, dan bendera. Hampir semua sekolah mengatur dekorasi dengan pajangan tersebut. Apakah pada saat itu saya terbantu dengan pajangan seperti itu? Jawabannya tidak, saya merasa saat itu kelas sangat gersang, tidak hidup bahkan membuat saya tidak bisa berpikir luas, tidak kreatif, dan hari-hari terasa monoton. Bahkan sampai setahun atau tahun telah berganti, dekorasi kelas tidak pernah berubah. Orang awam menganggap, bahkan guru saya menganggap, dekorasi hanya pantas untuk kelas anak TK.

Seiring perkembangan pendidikan, sekarang banyak sekali guru di Indonesia yang memajang hasil karya siswa di dalam maupun di luar kelas sebagai bentuk apresiasi terhadap siswa yang telah berusaha keras mengerjakan tugas-tugas tersebut. Bahkan kadang-kadang sekolah-sekolah mengadakan pameran sebagai upaya menunjukkan prestasi siswa. Masalahnya, apakah sebuah kelas hanya perlu didekorasi dengan pajangan karya siswa? Tidak bisakah guru lebih kreatif dengan memajang berbagai artefak atau media pembelajar seperti poster, majalah, artikel, model, miniatur, kartu, mainan, binatang piaraan atau benda-benda lain yang menunjang topik pembelajaran saat itu?

Sebagai contoh, seandainya topik yang diajarkan tentang Benua Asia, guru bisa menugaskan siswa membawa media pembelajar tersebut. Lalu, apakah tujuan mendekorasi kelas semacam ini?

1. Sebelum mengajar tentang sebuah topik, guru perlu mengetahui lebih awal seberapa jauh siswa telah memahami bahan ajar atau pengetahuan awal (prior knowledge). Ini penting karena guru tidak boleh mengajar hal-hal yang sudah dipahami siswa karena pengulangan selalu membuat siswa bosan. Dengan mengetahui pengetahuan awal siswa, guru dapat membuat rancangan pembelajaran yang tepat.

2. Siswa akan lebih kreatif dalam berpikir. Mintalah siswa untuk membuat pertanyaan dasar (apa, di mana, siapa, kapan, mengapa, bagaimana) dan gunakan untuk menulis komentar.

3. Siswa dapat belajar dari teman. Akan lebih baik apabila siswa mempresentasikan artifaknya di kelas supaya terbangun pula cara perpikir dari bermacam sudut pandang yang berbeda.

4. Sumber belajar tidak harus diperoleh di perpustakaan atau internet. Jika siswa mempresentasikan artifak yang dibawanya maka ia belajar menjadi narasumber. Keterampilan yang dikembangkan dalam hal ini tentu saja keterampilan berkomunikasi dan berpikir. Selain itu kepercayaan diri juga akan tumbuh. Setelah selesai presentasi, pajanglah artifak tersebut di kelas.

5. Ketika siswa mempresentasikan artifak, informasi yang disampaikan sangat sedikit karena hal ini sebagai prior knowledge saja. Seiring dengan proses belajar di kelas, maka pemahaman siswa akan bertambah.

6. Display atau artifak sebagai media untuk mengembangan seni, dalam hal ini visual art. Jika siswa mencari artifak berupa artikel dari surat kabar atau majalah, maka izinkan mereka untuk menghias bingkai artikel sesuai jiwa seni mereka.

Jika guru kreatif, siswa juga akan tertular kreatif. (Sumber: Surya, 22 Januari 2010). Email: russanti2009@ymail.com

About these ads

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Dasar (SD). Tags: , , .

Kelompok Belajar Pembelajaran Sastra Butuh Mak Erot


ISSN 2085-059X

  • 343,883

Komentar Terakhir

Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca
Roni Yusron on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: