Pelajaran Etika dari Senayan

21 Januari, 2010 at 12:10 am

Oleh Cucuk Suparno
Humas Lembaga Baca-Tulis Indonesia (LBTI) dan Penggagas Sekolah Kultural Indonesia.

Ada pelajaran menarik tetapi bukan dari ruang kelas atau lingkungan sekolah manapun, namun dari Senayan tempat wakil rakyat memperjuangkan nasib 200 juta lebih rakyat Indonesia. Ironisnya, bukan pelajaran yang layak diteladani tetapi justru sebuah pelajaran buruk. Maaf, inilah serangkaian pelajaran itu.

Mungkin, siapapun akan malu jika mempelajari matapelajaran ini. Tetapi ‘seburuk’ apapun bentuk pelajaran itu, tetap harus ‘dibaca’ sebagai bekal di masa depan. Pelajaran itu tentang etika dan tata cara pergaulan. Maaf, jika saya katakan ada wacana menarik untuk dikaji terkait pelajaran etika dan norma pergaulan,

Simaklah pertarungan atau tepatnya adu mulut para anggota Tim Pansus Century, antara Gayus Lumbuun (PDIP) dengan Ruhut Sitompul (Demokrat). Adu mulut dalam ruang sidang terjadi tidak hanya sekali, ketika Jusuf Kalla dimintai keterangan di hadapan pansus, ketegangan pun terulang lagi (antara Ruhut-JK). Ironisnya, ketegangan tersebut terjadi saat sidang disiarkan secara live di salah satu stasiun televisi nasional.

Yang membuat kita prihatin adalah kenapa perilaku yang tidak layak di senayan tersebut ‘dinikmati’ oleh seluruh masyarakat Indonesia. Tentu saja dinikmati dengan beragam apresiasi. Namun keberagaman apresiasi tersebut bernada sama; kenapa lembaga wakil rakyat semakin liar dan ‘beringas’?

Pelajaran Etika

Adu mulut yang terjadi dalam sidang Pansus Century memang berbuntut panjang. Di satu sisi, wakil rakyat (baca: Ruhut Sitompul) mengatakan bahwa aksi ketegangan tersebut merupakan riak-riak demokrasi. Dimana kebebasan berpendapat dan perbedaan sangat dijunjung tinggi.

Di sisi lain, aksi adu mulut dianggap sebagai arogansi yang jauh dari kesan pendewasaan demokrasi. Sebuah arogansi yang didasari kepentingan pribadi dan kelompok (baca: partai politik). Kedua pendapat tersebut saling bertabrakan menemukan titik benarnya. Tetapi apapun alasannya, menurut saya, aksi adu mulut tersebut sudah melampaui batas etika.

Layaknya masyarakat yang berada dalam lingkaran etika ketimuran, dimana adab dan kesantunan menjadi pilar utamanya, saling hujat merupakan perbuatan yang tabu. Atau malah dikatakan kurang ajar! Tidak beretika dan kurang beradab.

Publik menganggap ‘pertarungan’ yang terjadi dalam sidang Pansus Century bukanlah wahana pembelajaran dan pendewasaan demokrasi. Tetapi sekedar aksi arogan yang semakin memperburuk citra demokrasi Indonesia. Perbedaan tidak sepatutnya dimanivestasikan dalam bentuk lontaran kalimat yang menyinggung perasaan (dan bernuansa Sara). Pendeknya, sepanas apapun perbedaan itu, mestinya tetap diwadahi dalam suasana yang santun.

Menyikapi kondisi tersebut, pantas saja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan jika peristiwa di Senayan itu, sebuah peristiwa yang sangat tidak beretika. Sekaligus ini bukti, jika kebebasan –maaf, sebagai buah reformasi—telah menenggelamkan etika dan kesantunan kita.

Maaf, Ini Contoh Buruk

Dengan tidak bermaksud memihak, saya sangat menyayangkan aksi adu mulut tersebut terjadi berulangkali dan menjadi konsumsi publik. Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah ternyata etika kesantunan telah tergerus euforia kebebasan. Segala perilaku –termasuk yang menyinggung sara—boleh dilanggar asalkan demi memenuhi hasrat kebebasan.

Dikhawatirkan, pengejawantahan kebebasan seperti ini akan menjadi model yang dipakai hingga tingkat bawah. Tidak hanya di lingkungan legislasi (kabupaten dan kota) tetapi juga oleh generasi muda di lingkungan pendidikan. Model diskusi yang arogan –dalam konteks berbeda— boleh jadi mengispirasi para siswa dan menerapkannya.

Maaf, ini contoh buruk. Semoga tidak ditiru!

About these ads

Entry filed under: Artikel Pengamat Pendidikan. Tags: , , , .

Menunggu Penyelesaian Ta’miriyah Kelompok Belajar


ISSN 2085-059X

  • 423,967

Komentar Terakhir

Alfian HSB on Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: