Pengajaran yang Membelenggu
3 November, 2009
Oleh St Sulistyantoro
Guru SMAK Frateran Surabaya
Suatu siang sepulang sekolah putri saya yang duduk di kelas II SD memberikan hasil ulangannya kepada saya. Dengan bangga anak saya melaporkan bahwa hasilnya bagus dengan nilai 89. Sambil menerima kertas ulangan itu, saya bertanya ”Di mana letak kesalahannya?”
Kemudian ia menjawab dan menunjukkan letak kesalahan itu. Pertanyaan pada kertas ulangan itu adalah ”Dalam keluarga, kita harus saling …”. Anak saya menjawab, ”membantu ”. Rupanya bukan jawaban itu yang diinginkan oleh guru, melainkan ”mengasihi” sehingga jawaban anak saya salah. Muncul pertanyaan, kebingungan dan gejolak dalam pikiran saya setelah membaca kesalahan itu.
Saya tidak membayangkan apa jadinya generasi-generasi kita mendatang kalau secara nyata pikiran mereka ”dihabisi” di dalam kelas mulai dari jenjang awal pendidikan. Mereka tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan pemikirannya yang original dan murni.
Mereka secara sadar atau tidak sadar diarahkan oleh guru untuk berpikir yang sama dengan pemikiran sang guru. Sementara jelas bahwa pemikiran sang guru terbatas baik oleh waktu pertemuan atau penguasaan materi guru itu sendiri. Belum lagi bila dikaitkan dengan perkembangan jaman dan teknologi mungkin pemikiran guru sudah ketinggalan zaman.
Pada kesempatan lain guru memberikan pertanyaan, ”Telur berasal dari … ”. Jawaban yang diharapkan guru adalah berasal dari ayam, dan jawaban selain itu dianggap salah. Namun karena siswa pernah melihat Discovery Chanel di televisi bahwa buaya bertelur, maka siswa menjawab telur berasal dari buaya.
Ini adalah salah satu contoh terjadinya kesenjangan berpikir antara guru dan siswa yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Saya khawatir hal ini terjadi bukan hanya pada putri saya, melainkan juga pada siswa lain.
Selain itu saya juga khawatir itu terjadi bukan hanya pada jenjang pendidikan dasar, melainkan juga sampai pada jenjang pendidikan menenggah, bahkan mungkin tinggi. Bila hal ini berlangsung terus, maka yang terjadi semakin tinggi jenjang studi siswa bukan semakin terbuka pemikiran mereka, melainkan semakin kerdil pemikiran mereka.
Selain itu, tingkat kemandirian mereka dalam berpikir juga akan semakin kecil. Mereka terbiasa berpikir dengan pola-pola tertentu. Grafik pemikiran mereka seperti piramid dimana semakin tinggi jenjang pendidikannya semakin rendah tingkat berpikir kritisnya.
Hal ini karena mereka terbiasa berpikir dengan pola-pola tertentu atau prosedural. Seharusnya grafik perkembangan pemikiran mereka seperti piramida terbalik dimana semakin tinggi jenjang pendidikan mereka semakin berkembang dan terbuka pemikiran mereka.
Mengapa dalam ajang olimpiade matematika, Indonesia belum bisa mengukir prestasi yang menakjubkan seperti negara-negara maju? Apakah tidak ada siswa Indonesia yang pandai?
Hasil diskusi dengan teman-teman sejawat sebagian besar mereka sepakat dengan jawaban bahwa di Indonesia banyak siswa yang pandai. Lalu di mana letak kurangnya sehingga semua ini terjadi?
Barangkali berawal dari cerita siswa SD itulah akar permasalahannya. Siswa-siswa Indonesia tidak terbiasa berpikir divergen. Mereka terbiasa dicekoki hafalan-hafalan dan rumus-rumus. Maka, yang diajarkan bukanlah kemampuan berpikir tingkat tinggi, melainkan kemampuan berpikir prosedural yang jawabannya mengarah pada satu penyelesaian saja.
Tidak mengherankan ketika disodorkan sebuah soal baru yang membutuhkan pemecahan masalah, mereka bingung. Sebagai contoh dalam mengerjakan soal matematika, kebanyakkan siswa ketika mulai mengerjakan mereka langsung bertanya ”rumusnya apa?”
Bandingkan dengan siswa-siswa di Jepang terutama dalam mata pelajaran matematika mereka terbiasa disodori soal-soal open-ended. Soal open-ended adalah soal dengan proses penyelesaian berbeda tapi hasil akhirnya sama atau soal dengan hasil akhir berbeda.
Di sini siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kemampuan berpikir secara original. Selain itu siswa juga dituntut untuk mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan mereka terlepas apakah hasilnya benar atau salah.
Bila hasil pekerjaan mereka benar, ia bisa memperkaya diri dengan melihat hasil pekerjaan temannya dengan cara yang berbeda. Kalaupun hasil pekerjaan yang diperoleh siswa salah, siswa bisa mengetahui dan mengkritisi sendiri kesalahan itu untuk selanjutnya membuat langkah penyelesaian yang menurut ia terbaik.
Penanaman proses berpikir itu tidak bisa dilakukan dalam sekejab, melainkan harus secara intensif diupayakan terutama mulai dari tingkat dasar dan melibatkan masalah-masalah yang kontekstual. Di sinilah kelemahan itu terjadi. Ada anggapan bahwa mata pelajaran di SD identik dengan mata pelajaran hafalan.
Sehingga proses belajar di SD hanyalah proses pencekokkan pengetahuan yang menurut John Locke disebut dengan istilah ”a blank sheet of paper”. Pendidikan ibarat menulisi kertas kosong, anak dianggap tidak memiliki pengetahuan awal sama sekali. Padahal dalam pikiran anak SD penuh dengan pemikiran dan imajinasi yang mungkin bisa dikembangkan dan diolah menjadi pengetahuan yang dahsyat.
Setidaknya ada dua hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan pemikiran divergen yaitu proses belajar dan alat penilaian khususnya soal-soal yang diberikan pada siswa. Pertama, proses belajar harus dikembangkan berpusat pada siswa secara kontekstual.
Siswa diajak mengalami dan membangun sendiri pengetahuan mereka dengan mengambil konteks belajar yang melibatkan lingkungan, sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator. Pengertian lingkungan tidak terbatas pada lingkungan sekolah, lingkungan alam tetapi bisa juga latar belakang siswa dan pengetahuan awal yang dimiliki siswa.
Suatu contoh menanamkan pengetahuan tentang melebur dan menguap, semestinya guru bisa dengan nyata membawa contoh benda-benda untuk proses itu misalnya es dan air yang dididihkan. Atau kalau benda-benda itu tidak tersedia , bisa dengan memanfaatkan media belajar sekarang misalkan LCD proyektor dan laptop sehingga bisa ditunjukkan proses melebur dan menguap dengan gambar video. Siswa mengalami dan membangun struktur pengetahuaanya sendiri tentang melebur dan menguap yang tidak sama dengan yang dimiliki guru, walaupun sama-sama benar.
Kedua, guru harus benar-benar bisa membuat soal yang arahnya jelas apakah soal terbuka atau tertutup. Jangan sampai maksud guru membuat soal tertutup tetapi karena guru kurang mengkaji soal itu, maka yang terjadi adalah sebenarnya soal terbuka yang memiliki jawaban tidak tunggal.
Bila hendak membuat soal tertutup hendaknya disamakan terlebih dahulu konteks yang dipikirkan guru dan siswa. Bisa melalui keterangan awal sebelum soal atau secara lisan disampaikan sebelum soal diberikan. Tidak semua soal bisa dibuat soal terbuka, namun ada baiknya bila memungkinkan dibuat soal terbuka. Hal ini perlu dilakukan karena soal terbuka akan memberi kesempatan siswa untuk menuangkan ide dan gagasannya dengan baik.
Akhirnya dengan mengembangkan pemikiran Divergen ini bisa diharapkan kedepan akan muncul generasi-generasi yang bisa memecahkan masalah secara kreatif dan tidak hanya berdasarkan pakem atau pola-pola tertentu yang sudah ada. Semoga! (Sumber: Surya, 3 Nopember 2009)

Entry Filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tag: pengajaran, St Sulistyantoro, Suara-Guru.



