Peningkatan Manajemen Mutu Pembelajaran di Sekolah

5 Oktober, 2009 at 12:00 am

Oleh Maryono
Guru SMK Negeri 3 Yogyakarta, mahasiswa S3 Program Studi Pendidikan Teknologi Kejuruan di Universitas Negeri Yogyakarta

 

A. LATAR BELAKANG

Peningkatan mutu pendidikan merupakan sasaran pembangunan di bidang pendidikan Nasional dan merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia secara menyeluruh. Dalam Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menyatalan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan diri dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didika agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demikratis serat bertanggung jawab.

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (MSDM) merupakan kebutuhan mendesak yang perlu diprioritaskan oleh pemerintah dalam menghadapi era globalisaasi dimana perkembangan teknologi dan informasi yang begitu cepat. Harus diakui bahwa yang menjadi pokok permasalahan pendidikan di Indonesia adalah kinerja manajemen ini ditenggarai sebagai salah satu factor yang memiliki potensi dalam mempengaruhi dunia pendidikan yang meliputi berbagaisuber daya pendidikan yang terkait dengan mutu output yang dihasilkan.

Era reformasi telah membawa perubahan-perubahan mendasar dalam berbagai bidang kehidupan termasuk bidang pendidikan. Salah satu perubahan mendasar yang digulirkan saat ini adalah manajemen Negara, yaitu dari Manajemen Sentralistik ke Manajemen berbasis daerah. Secara resmi perubahan ini diwujudkan dalam Undang-Undang No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Konsekuensi logis dalam Undang-Undang tersebut adalah bahwa manajemen pendidikan harus disesuaikan dengnan jiwa dan semangat otonomi Daerah. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan dengan cara menyempurnakan system pendidikan, baik melalui penataan perangkat lunak meupun perangkat keras. Upaya tersebut, antara lain dikeluarkannya Undang-Undang No 22 dan 25 Tahun 1999 tentang otonomi Daerah serta diikuti oleh penyempurnaan Undang-Undanag sistem Pendidikan Nasional, yang secara langsung berpengaruh terhadap perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pendidikan. Dengan perubahan paradigma dari top-down ke bottom-up atau desentralisasi dalam wujud pemeberdayaan sekolah, yang meyakini bahwa untuk meningkatkan kualitas pendidikan sedapat mungkin keputusan harus dibuat oleh mereka yang berada di garis depan, yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kebijakan yaitu kepala sekolah dan guru.

Pendidikan harus mampu melayani, beradaptasi dan bahkan juga ikut menentukan dunia secara makro yang selalu maju dengan cepat. Sayangnya menurut Otzold (Sindhunata 2000: 12) dibandingkan dengan lembaga¬ lembaga yang terkait dengan bisnis dan perdagangan, sekolah termasuk lembaga yang paling rendah untuk berubah.

Dalam lingkungan bisnis global, customer telah mengalami perubahan pesat, baik dalam tuntutan mereka maupun cara mereka memenuhi tuntutannya. Oleh karena itu untuk dapat survive dan berkembang dalam lingkungan yang telah berubah tersebut, manajemen harus merubah paradigma mereka agar sikap dan tindakan mereka dalam menjalankan bisnis menjadi efektif. Paradigma baru tersebut adalah penerapan manajemen mutu terpadu (Total Quality Manajement)

Ada dua faktor yang dapat menjelaskan mengapa upaya perbaikan mutu pendidikan selama ini kurang atau tidak berhasil. Pertama strategi pembangunan pendidikan selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi ajar) dan alat belajar lainnya, penyediaan sarana pendidikan, pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan ( sekolah) akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagai mana yang diharapkan. Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan oleh teori education production function (Hanushek, 1979,1981) tidak berfungsi sepenuhnya di lembaga pendidikan (sekolah), melainkan hanya teljadi dalam institusi ekonomi dan industri.

Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro-oriented, diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro (pusat) tidak terjadi atau tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa kompleksitasnya cakupan permasalahan pendidikan, seringkali tidak dapat terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi pusat.( Umaedi: 1999)

Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan sudah dilakukan oleh pemerintah atau inisiatif dari pihak sekolah sendiri. Salah satu untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah sekolah menerapkan manajemen ISO 9001 – 2000. Dengan penerapan suatu sistem manajemen mutu ISO 9001 – 2000 tentunya sekolah akan membawa dampak positif bagi layanan pendidikan, yaitu meningkatkan dan menjamin mutu dari lulusan atau layanan yang dihasilkan sehingga pada akhirnya akan meningkatkan tingkat kepuasan konsumen terhadap produk atau layanan. Mutu suatu produk layanan dapat dijamin karena sistem secara otomatis akan berusaha mengontrol dan mencegah setiap potensi timbulnya ketidaksesuaian atau penyimpangan pada seluruh tahapan supply chain. Hal ini juga akan berpengaruh positif terhadap kinerja sekolah yaitu akan terhindarnya pemborosan anggaran, meminimalisasi biaya-biaya, dan pada akhirnya adalah meningkatnya keuntungan sekolah secar•a signifikan.

Menurut Kepmendikbud No. 0531012001 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM), sekolah harus memiliki persyaratan minimal untuk menyelenggarakan pendidikan dengan serba lengkap dan cukup seperti, luas lahan, perabot lengkap, peralatan/laboratorium/media, infrastruktur, sarana olahraga, dan buku rasio 1:2. Kehadiran Kepmendiknas itu dirasakan sangat tepat karena dengan keputusan ini diharapkan penyelenggaraan pendidikan di sekolah tidak “kebablasan cepat” atau “keterlaluan tertinggal” di bawah persyaratan minimal sehingga kualitas pendidikan menjadi semakin terpuruk.

Kepmendiknas No. 044/U/2002 dan UU Sisdiknas No. 20/2003 pasal 56 ayat (1). Dalam peningkatan mutu pelayanan pendidikan yang meliputi perencanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan melalui dewan pendidikan dan komite sekolah/madrasah, ayat (2) Dewan pendidikan, sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam meningkatkan mutu pelayanan pendidikan dengan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana, serta pengawasan pendidikan ditingkat nasional, provinsi dan kabupaten/ kota yang tidak mempunyai hubungan hierarkis, dan ayat (3) Komite sekolah/madrasah sebagai lembaga mandiri dibentuk dan berperan dalam peningkatan mutu pelayanan dan memberikan pertimbangan, arahan dan dukungan tenaga, sarana dan prasarana serta pengawasan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan.

B. Konsep Manajemen

Menurut James A.F. Stoner dan Charles Wankel (dalam Siswanto, 2005:2) memberikan batasan manajemen sebagai berikut: manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian upaya anggota organisasi dan penggunaan seluruh sumber daya organisasi lainnya demi tercapainya tujuan organisasi

Manajemen sebagai proses, oleh para ahli diberikan pengertian yang berbeda-beda. Menurut Daft (2002:8) manajemen adalah pencapaian sasaran-sasaran organisasi dengan cara efektif dan efisien melalui perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, dan pengendalian sumber daya organisasi. The Liang Gie (dalam Mahtika, 2006:6) mengemukakan bahwa manajemen adalah segenap perbuatan menggerakkan sekolompok orang atau mengerahkan segala fasilitas dalam suatu kerja sama untuk mencapai tujuan tertentu.

Berdasarkan definisi tersebut diatas, maka manajemen mempunyai tiga unsur pokok yaitu: (1) adanya tujuan yang ingin dicapai, (2) tujuan dapat dicapai dengan menggunakan kegiatan orang lain, dan (3) kegiatan-kegiatan orang lain itu harus dibimbing dan diawasi. Dengan demikian manajemen dapat dipastikan adanya maksud untuk mencapai tujuan tertentu dari kelompok atau organisasi yang bersangkutan. Sedangkan untuk mencapainya suatu perencanaan yang baik, pelaksanaan yang konsisten dan pengendalian yang kontinyu, dengan maksud agar tujuan yang diinginkan dapat tercapai dengan efisien dan efektif. Efisien dapat dikatan suatu kondisi atau keadaan, dimana penyeiesaian suatu pekerjaan dilaksanakan dengan benar dan dengan penuh kemampuan yang dimiliki. Sedangkan efektivitas adalah suatu kondisi atau keadaan dimana dalam memilih tujuan yang hendak dicapai menggunakan sarana ataupun peralatan yang tepat, disertai dengan kemampuan yang dimiliki, sehingga tujuan yang diinginkan dapat dicapai dengan hasil yang memuaskan.

Manajemen sebagai seni berfungsi untuk mencapai tujuan yang nyata mendatangkan hasil atau manfaat, sedangkan manajemen sebagai ilmu berfungsi menerangkan fenomena-fenomena, kejadian¬kejadian, keadaan-keadaan sebagai penjelasannya.

Menurut Mondy dan Premeaux (1993:5) bahwa “Manajemen adalah proses penyelesaian pekerjaan melalui usaha-usaha orang lain.” Berdasarkan definisi ini tampak bahwa proses manajemen akan terjadi apabila seorang melibatkan orang lain untuk menyelesaikan suatu pekerjaan karena fakta menunjukkan bahwa untuk mencapai tujuan organisasi, manajer tidak dapat melakukan sendiri tugas tersebut tanpa bantuan orang lain atau pegawai.

Menurut Hasibuan (2001:1) bahwa manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumberdaya-sumberdaya lainnya sebara efektif dan efisien untuk mencapai suatu tujuan tertentu.

Wahjosumidjo (2001 :93) mengemukakan bahwa manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, memimpin dan mengendalikan usaha-anggota-anggota organisasi serta pendayagunaan seluruh sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Manajemen adalah seni, dan ilmu perencanaan dan pengorganisasian, penyusunan pegawai, pemberian perintah, dan pengawasan terhadap human and natural resources terutama human resources untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Kriteria yang dapat pula digambarkan sebagai strategi pokok manajemen adalah mencapai hasil dengan efisien, efektif, ekonomis dan bertanggung jawab dengan memanfaatkan manusia dan sumber daya manusia, biaya, alat, bahan, metode kerja, tempat dan waktu sehemat mungkin.

C. Fungsi Manajemen Pendidikan

Konsep yang paling utama dalam memahami kinerja sebuah organisasi adalah dengan melihat organisasi tersebut sebagai suatu sistem dimana serangkaian elemen yang berada didalamnya saling berhubungan dan berfungsi sebagai sebuah unit dalam mencapai suatu tujuan (Lunenburg dan Ornstein, 2000: 14). Implementasi konsep sistem kedalam lembaga dapat menjadi landasan dalam mewujudkan institusi pendidikan sebagai organisasi belajar (learning organization) (Senge 1990: 3). Organisasi Belajar adalah suatu keadaan diamana setiap orang didalam organisasi secara tems menems mengembangkan kemampuan mereka untuk mencapai hasil yang benar-benar mereka inginkan. Memperbaharui atau mengembangkan cara berfikir mereka, mengungkapkan aspirasi dan secara terus menems mencari cara untuk dapat belajar secara bersama-sama. Pada prinsipnya organisasi belajar adalah suatu komitmen strategis untuk menyerap dan berbagi i1mu pengetahuan didalam lingkup organisasi, dimana hal tersebut bermanfaat bagi individu,kelompok atau organisasi yang bersangkutan (Senge. 1990: 4).

Wilson (1966: 9) mendefinisikan manajemen pendidikan sebagai koordinasi atas aspek-aspek yang penting guna terselenggaranya pembelajaran yang baik bagi seluruh pesert adidik dalam sebuah institusi pendidikan sekolah yang dituangkan kedalam rencana tersusun untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Fungsi Manajemen sebagai suatu karakteristik dari pendidikan muncul dari kebutuhan untuk memberikan arah pada perkembangan, baik secara kuantitatif atau kualitatif dalam operasional sekolah. Keruwetan yang meningkat karena luas dan banyaknya program telah mendorong usaha untuk merinci dan mempraktikkan prosedur administrasi yang sistematis.

Keith and Giding (191: viii) dalam penelitiannya bahwa kontribusi manajemen pendidian terhadap keberhasilan dan kegagalan belajar siswa adalah sebesar 32%. Dengan bertumpu pada landasan tersebut, pendidikan memulai usahanya dengan sungguh-sunguh untuk mengembangkan suatu teori dan ilmu administrasi pendidikan. Perkembangan ini melingkupi formulasi dan pemeriksaan proposisi teoritis, pendidikan praktik yang sistematis dan penerapan teori dari bidang ilmu sosiallain pada masalah administrasi pendidikan.

Coladarci and Getzels, (1998) Seorang kepala sekolah yang memanajemensekolah tanpa pengetahuan manajemen pendidikan tidak akan bekerja secara efektif dan efisien, jauh dari mutu, dan keberhasilannya tidak meyakinkan. Pengetahuan dan atau teori tentang manajement pendidikan sangat dibutuhkan dan harus dipahami oleh seorang kepala sekolah karena tanpa teori manajemen kepala sekolah akan melakukan pekerjaannya dengan tekanan dan pendapatnya saja. Hal tersebut tidak akan dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan justru akan mengalami jalan buntu. Untuk itu teori manajemen pendidikan sangat membantu para kepala sekolah dalam menyelesaikan tugas dan tangungjawabnya.

Rohiyat (2008: 15) Seorang kepala sekolah yang tidak mempelajari teori manajemen dalam mengelola sekolahnya tidak akan dapat mencapai tujuan secara efektif karena apa yang dilakukan untuk mencapai tujuan harus berpijak pada perilaku yang sistematis dan berhubungan dengan konsep, asumsi dan generalisasi teori manajemen.

Kepala Sekolah sebagai Top manajemen mempunyai tanggung jawab untuk selalu mengembangkan visi dan misi sekolah bersifat dinamis dan dapat memunculkan perubahan-perubahan dengan disukung oleh Sumber Daya Manusia (SDM), Sumber daya Sarana Prasarana dan sumber daya informasi, (Marwata: 2007).

D. Hakekat Mutu Pendidikan

Sebelum membahas tentang mutu pendidikan terlebih dahulu akan dibahas tentang mutu dan pendidikan. Banyak ahli yang mengemukakan tentang mutu, seperti yang dikemukakan oleh Edward Sallis (2006 : 33 ) mutu adalah Sebuah filsosofis dan metodologis yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan. Sudarwan Danim (2007 : 53 ) mutu mengandung makna derajat keunggulan suatu poduk atau hasil kerja, baik berupa barang dan jasa. Sedangkan dalam dunia pendidikan barang dan jasa itu bermakna dapat dilihat dan tidak dapat dilihat, tetapi dan dapat dirasakan. Sedangkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991 :677 ) menyatakan Mutu adalah (ukuran ), baik buruk suatu benda;taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan, dsb) kualitas. Selanjutnya Lalu Sumayang ( 2003 : 322) menyatakan quality (mutu ) adalah tingkat dimana rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya, disamping itu quality adalah tingkat di mana sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan rancangan spesifikasinya.

Berdasarkan pendapat ahli di atas, dapat disimpulan bahwa mutu (quality ) adalah sebuah filsosofis dan metodologis, tentang (ukuran ) dan tingkat baik buruk suatu benda, yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda rancangan spesifikasi sebuah produk barang dan jasa sesuai dengan fungsi dan penggunannya agenda dalam menghadapi tekanan-tekanan eksternal yang berlebihan

Dalam pandangan Zamroni ( 2007 : 2 ) dikatakan bahwa peningkatan mutu sekolah adalah suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan agar menjadi target sekolah dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien.

Peningkatan mutu berkaitan dengan target yang harus dicapai, proses untuk mencapai dan faktor-faktor yang terkait. Dalam peningkatan mutu ada dua aspek yang perlu mendapat perhatian, yakni aspek kualitas hasil dan aspek proses mencapai hasil tersebut.

Teori manajemen mutu terpadu atau yang lebih dikenal dengan Total Quality Management.(TQM) akhir-akhir ini banyak diadopsi dan digunakan oleh dunia pendidikan dan teori ini dianggap sangat tepat dalam dunia pendidikan saat ini.

Konsep total quality management pertama kali dikemukakan oleh Nancy Warren, seorang behavioral scientist di United States Navy (Walton dalam Bounds, et. al, 1994). Istilah ini mengandung makna every process, every job, dan every person (Lewis & Smith, 1994). Pengertian TQM dapat dibedakan menjadi dua aspek (Goetsch & davis, 1994).

Aspek pertama menguraikan apa TQM. TQM didefinisikan sebagai sebuah pendekatan dalam menjalankan usaha yang berupaya memaksimumkan daya saing melalui penyempurnaan secara terus menerus atas produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan organisasi.

Aspek kedua menyangkut cara mencapainya dan berkaitan dengan sepuluh karakteristik TQM yang terdiri atas : (a) focus pada pelanggan (internal & eksternal), (b) berorientasi pada kualitas, (c) menggunakan pendekatan ilmiah, (d) memiliki komitmen jangka panjang, (e) kerja sama tim, (f) menyempurnakan kualitas secara berkesinambungan, (g) pendidikan dan pelatihan, (h) menerapkan kebebasan yang terkendali, (i) memiliki kesatuan tujuan, (j) melibatkan dan memberdayakan karyawan.(Ety Rochaety,dkk,2005 :97)

Edward Sallis ( 2006 :73 ) menyatakan bahwa Total Quality Management (TQM) Pendidikan adalah sebuah filsosofis tentang perbaikan secara terus- menerus , yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan , keinginan , dan harapan para pelanggannya saat ini dan untuk masa yang akan datang

Di sisi lain, Zamroni memandang bahwa peningkatan mutu dengan model TQM , dimana sekolah menekankan pada peran kultur sekolah dalam kerangka model The Total Quality Management (TQM). Teori ini menjelaskan bahwa mutu sekolah mencakup tiga kemampuan, yaitu : kemampuan akademik, sosial, dan moral. (Zamroni , 2007 :6 )

Menurut teori ini, mutu sekolah ditentukan oleh tiga variabel, yakni kultur sekolah, proses belajar mengajar, dan realitas sekolah. Kultur sekolah merupakan nilai-nilai, kebiasaan-kebiasaan, upacara-upacara, slogan-slogan, dan berbagai perilaku yang telah lama terbentuk di sekolah dan diteruskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya, baik secara sadar maupun tidak. Kultur ini diyakini mempengaruhi perilaku seluruh komponen sekolah, yaitu : guru, kepala sekolah, staf administrasi, siswa, dan juga orang tua siswa. Kultur yang kondusif bagi peningkatan mutu akan mendorong perilaku warga kearah peningkatan mutu sekolah, sebaliknya kultur yang tidak kondusif akan menghambat upaya menuju peningkatan mutu sekolah.

E. Hakekat Peningkatan Mutu Sekolah

Hampir semua bangsa-bangsa negara di dunia ini terus melakukan proses untuk meningkatkan mutu pendidikan di negara masing-masing. Sebab kunci masa depan suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan sistem pendidikan yang berkualitas, yang ditunjukkan oleh keberadaan sekolah-sekolah yang berkualitas pula.

Peningkatan mutu pendidikan yang berpusat pada peningkatan mutu sekolah merupakan suatu proses yang dinamis, berjangka panjang yang musti dilakukan secara sistematis lagi konsisten untuk diarahkan menuju suatu tujuan tertentu. Peningkatan mutu sekolah tidak bersifat instan, melainkan suatu proses yang harus dilalui dengan sabar, tahap demi tahap, yang terukur dengan arah yang jelas dan pasti. Dalam peningkatan mutu sekolah tidak dikenal sesuatu yang gampang segampang teori, seperti yang disitir oleh Kurt Lewin: “There is nothing to practical as good as a theory”. Pendapat ini berarti pula, bahwa tidak mungkin ada peningkatan mutu sekolah tanpa didasari oleh suatu teori (Levin, 2008). Peningkatan mutu sekolah memerlukan teori, namun implementasinya tidak akan bisa mulus dan semudah teori yang ada. Sebab peningkatan mutu bersifat dinamis yang amat terkait dengan berbagai faktor atau variabel yang tidak semua dapat dikendalikan oleh sekolah.

Peningkatan mutu sekolah, dapat disebut sebagai suatu perpaduan antara knowledge-skill, art, dan entrepreneurship. Suatu perpaduan yang diperlukan untuk membangun keseimbangan antara berbagai tekanan, tuntutan, keinginan, gagasan-gagasan, pendekatan dan praktik. Perpaduan tersebut di atas berujung pada bagaimana proses pembelajaran dilaksanakan sehingga terwujud proses pembelajaran yang berkualitas. Semua upaya peningkatan mutu sekolah harus melewati variabel ini. Proses pembelajaran merupakan faktor yang langsung menentukan kualitas sekolah.

Pembelajaran adalah proses yang kompleks rumit dimana berbagai variable saling berinteraksi. Banyak variable dalam proses interaksi antara guru dan siswa berkaitan dengan suatu materi tertentu yang tidak dapat dikendalikan secara pasti. Terdapat keterkaitan berbagai yang sulit untuk diindentifikasi mana yang mempengaruhi dan mana yang dipengaruhi. Hasil pembelajaran tidak bisa diestimasi secara matematis, pasti. Anak yang kecapekan atau kurang gizi atau memiliki persoalan pribadi jelas akan mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran. Demikian pula kemiskinan dan kondisi keluarga akan berpengaruh. Siswa yang memiliki motivasi dan yang tidaki memiliki akan berbeda dalam kaitan dengan proses dan hasil pembelajaran. Dengan singkat, apa pengaruh eksternal dan internal dalam diri siswa yang akan mempengaruhi proses dan hasil pembelajaran, tidak semua pengaruh tersebut dapat dikendalikan oleh kepala sekolah dan guru.

Sebagai suatu proses interaksi antara siswa dan guru berkaitan dengan materi tertentu, maka tidak hanya kondisi siswa yang berpengaruh, tetapi juga kondisi guru tidak kalah pentingnya mempengaruhi kualitas pembelajaran. Pepatah mengatakan, “kalau ingin melihat prestasi siswa lihatlah kualitas gurunya”. Kondisi guru yang bervariasi berarti kualitas dan hasil pembelajaran juga akan bervariasi. Semakin tinggi kesenjangan kualitas guru, semakin tinggi kesenjangan prestasi siswa. Kualitas interaksi juga dipengaruhi oleh keberadaan dan kualitas fasilitas, termasuk kurikulum yang dipergunakan.

Peningkatan mutu atau kualitas pembelajaran merupakan inti dari reformasi pendidikan di negara manapun. Hal disebabkan oleh asumsi bahwa, peningkatan mutu sekolah yang memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan nasional, tergantung pada kualitas pembelajaran. Namun, peningkatan kualitas pembelajaran sangat bersifat kontekstual, sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial dan kultural sekolah dan lingkungannya. Berbagai penelitian menunjukan bagaimana bagaimana pentingnya kondisi dan lingkungan sekolah mempengaruhi kualitas pembelajaran, seperti, dalam penelitian tentang sekolah efektif (Purkey & Smith, 1983), kerja guru dan pembelajaran (McLaughlin Talbert, 1993), retrukturisasi sekolah dan kinerja organisasi (Darling-Hammond, 1996), yang semuanya ini bermuara pada suatu pernyataan “apabila ingin meningkatkan kualitas pembelajaran, kualitas sekolah sebagai satu kesatuan dimana pembelajaran berlangsung harus ditingkatkan”.

Dalam kaitan dengan peningkatan mutu, pengalaman menunjukan terdapat berbagai model yang dilaksanakan yang mencakup berbagai kebijakan dalam upaya meningkatkan mutu. Seperti model UNESCO, Model Bank Dunia, Model Orde Baru dan Model Orde Reformasi.

MODEL UNESCO. Sebagai lembaga internasional yang bergerak di bidang budaya dan pendidikan, UNESCO banyak memberikan perhatian dan berupaya mendorong peningkatan mutu sekolah di banyak negara, khususnya negara-negara sedang berkembang. Setiap tahun UNESCO kantor Asia & Pasifik bekerjasama pemerintah China dan Thailand secara bergantian menyelenggarakan seminar innovasi pendidikan yang difokuskan pada peningkatan mutu sekolah.

UNESCO memiliki resep bahwa untuk meningkatkan kualitas sekolah diperlukan berbagai kebijakan, yang mencakup antara lain (UNESCO, 2001.):

1. Sekolah harus siap dan terbuka dengan mengembangkan a reactive mindset, menanggalkan “problem solving” yang menekankan pada orientasi masa lalu, berubah menuju “change anticipating” yang berorientasi pada “how can we do things differently”.

2. Pilar kualitas sekolah adalah Learning how to learn, learning to do, learning to be, dan learning to live together.

3. Menetapkan standar pendidikan dengan indikator yang jelas.

4. Memperbaharui dan kurikulum sehingga relevan dengan kebutuhan masyarakat dan peserta didik.

5. Meningkatkan pemanfaatan ICT dalam pembelajaran dan pengeloaan sekolah.

6. Menekankan pada pengembangan sistem peningkatan kemampuan professional guru.

7. Mengembangkan kultur sekolah yang kondusif pada peningkatan mutu.

8. Meningkatkan partisipasi orang tua masyakat dan kolaborasi sekolah dan fihak-fihak lain.

9. Melaksanakan Quality Assurance.

F. Faktor-Faktor yang mempengaruhi Peningkatan Mutu Pembelajaran

Untuk meningkatkan mutu sekolah seperti dapat menggunakan yang disarankan oleh Sudarwan Danim ( 2007 : 56 ), yaitu dengan melibatkan lima faktor yang dominan :

1. Kepemimpinan Kepala sekolah; kepala sekolah harus memiliki dan memahami visi kerja secara jelas, mampu dan mau bekerja keras, mempunyai dorongan kerja yang tinggi, tekun dan tabah dalam bekerja, memberikanlayananyang optimal, dan disiplin kerja yang kuat.

2. Siswa; pendekatan yang harus dilakukan adalah “anak sebagai pusat “ sehingga kompetensi dan kemampuan siswa dapat digali sehingga sekolah dapat menginventarisir kekuatan yang ada pada siswa .

3. Guru; pelibatan guru secara maksimal , dengan meningkatkan kopmetensi dan profesi kerja guru dalam kegiatan seminar, MGMP, lokakarya serta pelatihan sehingga hasil dari kegiatan tersebut diterapkan disekolah.

4. Kurikulum; adanya kurikulum yang tetap tetapi dinamis , dapat memungkinkan dan memudahkan standar mutu yang diharapkan sehingga goals (tujuan ) dapat dicapai secara maksimal;

5. Jaringan Kerjasama; jaringan kerjasama tidak hanya terbatas pada lingkungan sekolah dan masyarakat semata (orang tua dan masyarakat ) tetapi dengan organisasi lain, seperti perusahaan / instansi sehingga output dari sekolah dapat terserap didalam dunia kerja

Berdasarkan pendapat diatas, perubahan paradigma harus dilakukan secara bersama-sama antara pimpinan dan karyawan sehingga mereka mempunyai langkah dan strategi yang sama yaitu menciptakan mutu dilingkungan kerja khususnya lingkungan kerja pendidikan. Pimpinan dan karyawan harus menjadi satu tim yang utuh (teamwork ) yangn saling membutuhkan dan saling mengisi kekurangan yang ada sehingga target (goals ) akan tercipta dengan baik.

G. Penerapan Manajemen Mutu ISO 9001 dalam Pendidikan

ISO 9001 disusun berdasarkan delapan prinsip manajemen kualitas. delapan prinsip ini dapat dipakai oleh manajemen senior sebagai suatu kerangka kelja (framework) untuk membimbing organisasi¬organisasi mereka menuju peningkatan prestasi. Prinsip-prinsip tersebut diperoleh dari pengalaman dan pengetahuan kolekti[ dari para ahli internasional yang berpartisipasi dalam komite teknik ISO.

Delapan prinsip manajemen kualitas dalam ISO 9001: 2000 adalah sebagai berikut :

Prinsip 1: Fokus Pelanggan

Prinsip 2: Kepemimpinan•

Prinsip 3: Keterlibatan Orang

Prinsip 4: Pendekatan Proses

Prinsip 5: Pendekatan Sistem Terhadap Manajemen

Prinsip 6: Peningkatat terus menerus

Prinsip7: Pendekatan Faktual Dalam Pembuatan Keputusan

Prinsip 8: Hubungan Pemasok Yang Saling Menguntungkan

“ISO 9000 improves the operational structure (schools) work in and the day-to-day processes. With less time lost on operational malfunctions, they have more time and energy for the creative and people aspects. In addition, the implementation of an ISO 9000 quality sistem by a school may give confidence to taxpayers that •heir money is being used effectively.” (ISO 9000 memperbaiki struktur operasional di mana sekolah-sekolah melaksanakannya dan proses hari demi hari. Dengan sedikit kehilangan waktu atas kesalahan-kesalahan operasional, sekolah¬ sekolah mempunyai lebih banyak waktu dan tenaga untuk aspek-aspek kreatif dan orang. Lagi pula, implementasi sistem kualitas ISO 9000 dalam suatu sekolah mungkin menyediakan kepercayaan kepada para pembayar pajak bahwa uang mereka sedang digunakan secara efektif.) (Core Business Solutions, Inc. 2003 : 1)

Miller, 2008 dalam ujicoba implementasi ISO di beberapa sekolah mencatat hasil kualitas inti antara lain:

1. Prestasi siswa (Student Achievement) : berbagai mata pelajaran nilai para siswa meningkat,

2. Perjanjian siswa (Student Engagement), dengan adanya perjanjian, maka kehadiran siswa lebih baik dan siswa yang membolos menurun,

3. Memberikan kepuasan pelanggan (Customer Satisfaction.):

berdasarkan hasil survai yang dilakukan kepada pelanggan, dalam hal ini orangtua siswa, didapat bahwa penerapan manajemen ISO 9001¬-2000 kinerja sekolah meningkat 5% untuk sekolah menengah dan 7% untuk perguruan tinggi.

4. Efisiensi Operasioanl (Operational Efficiency).

Menurut IWA ISO 9001-2000 (2003b: 3), lembaga pendidikan sebagai organisasi yang menawarkan produk berupa layanan pendidikan harus dapat mendefinisaikan proses yang ada didalamnya. Proses ini umumnya terjadi secara multi disiplin yang merangkum layanan administratif selia layanan pendukung lainnya. Proses dalam layanan pendidikan terdiri dari:

1. Proses strategi untuk menentukan kedudukan organisasi tersebut dalam lingkungan sosial ekonomi,

2. Penentuan standar kompetensi bagi tenaga guru dan karyawan,

3. Pemeliharaan lingkungan kerja,

4. Pengembangan, pengkajian serta pengembangan rencana pembelajaran dan kurikulum,

5. Pendaftaran dan penyeleksian calon peserta didik,

6. Pengawasan dan penilaian proses pembelajaran peserta didik,

7. Penilaian akhir untuk pemberian gelar akademik kepada peserta didik yang menempllh diploma, ijazah atau sertifikat kompetensi,

8. Layanan pendudung bagi proses belajar mengajar untuk pencapaian kompetensi peserta didik, serta bantuan lain yang diberikan kepada peserta didik agar mereka mampu menyelesaikan pendidikan sesuai dengan kurikulum,

9. Komunikasi internal dan eksternal, dan

10. Pengukuran proses pendidikan.

H. Strategi Peningkatan Mutu Pembelajaran di Sekolah

Secara umum untuk meningkatkan mutu pendidikan harus diawali dengan strategi peningkatan pemerataan pendidikan, dimana unsure makro dan mikro pendidikan ikut terlibat, untuk menciptakan (Equality dan Equity ) , mengutip pendapat Indra Djati Sidi ( 2001 : 73 ) bahwa pemerataan pendidikan harus mengambil langkah sebagai berikut :

1. Pemerintah menanggung biaya minimum pendidikan yang diperlukan anak usia sekolah baik negeri maupun swasta yang diberikan secara individual kepada siswa.

2. Optimalisasi sumber daya pendidikan yang sudah tersedia, antara lain melalui double shift ( contoh pemberdayaan SMP terbuka dan kelas Jauh )

3. Memberdayakan sekolah-sekolah swasta melalui bantuan dan subsidi dalam rangka peningkatan mutu embelajaran siswa dan optimalisasi daya tampung yang tersedia.

4. Melanjutkan pembangunan Unit Sekolah Baru (USB ) dan Ruang Kelas Baru (RKB ) bagi daerah-daerah yang membutuhkan dengan memperhatikan peta pendidiakn di tiap –tiap daerah sehingga tidak mengggangu keberadaan sekolah swasta.

5. Memberikan perhatian khusus bagi anak usia sekolah dari keluarga miskin, masyarakat terpencil, masyarakat terisolasi, dan daerah kumuh.

6. Meningkatkan partisipasi anggota masyarakat dan pemerintah daerah untuk ikut serta mengangani penuntansan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun.

Sedangkan peningkatan mutu sekolah secara umum dapat diambil satu strategi dengan membangun Akuntabilitas pendidikan dengan pola kepemimpinan , seperti kepemimpinan sekolah Kaizen ( Sudarwan Danim, 2007 : 225 ) yang menyarankan :

1. Untuk memperkuat tim-tim sebagai bahan pembangun yang fundamental dalam struktur perusahaan

2. Menggabungkan aspek–aspek positif individual dengan berbagai manfaat dari konsumen

3. Berfokus pada detail dalam mengimplementasikan gambaran besar tentang perusahaan

4. Menerima tanggung jawab pribadi untuk selalu mengidentifikasikan akar menyebab masalah

5. Membangun hubungan antar pribadi yang kuat

6. Menjaga agar pemikiran tetap terbuka terhadap kritik dan nasihat yang konstruktif

7. Memelihara sikap yang progresif dan berpandangan ke masa depan

8. Bangga dan menghargai prestasi kerja

9. Bersedia menerima tanggung jawab dan mengikuti pelatihan

I. Kesimpulan

Dalam kehidupan sekolah itu pula dilaksanakan secara berkesinambungan peningkatan kualitas profesional guru. Dalam konseptualisasi mutu sekolah perlu diserap gagasan tren perkembangan global, dimana mutu sekolah tidak semata-mata dalam arti kapasitas intelektual tetapi yang tidak kalah penting adalah aspek moral-karakter dan soft skill. Untuk mewujudkan sekolah dengan konsepsi kualitas abad 21, kebijakan yang relevan harus dikembangkan, khususnya perubahan cara pandang.

Kepemimpinan kepala sekolah dan kreatifitas guru yang professional, inovatif, kreatif, mrupakan salah satu tolok ukur dalam Peningkatan mutu pembelajaran di sekolah , karena kedua elemen ini merupakan figure yang bersentuhan langsung dengan proses pembelajaran, kedua elemen ini merupakan figur sentral yang dapat memberikan kepercayaan kepada masyarakat (orang tua) siswa, kepuasan masyarakat akan terlihat dari output dan outcome yang dilakukan pada setiap periode. Jika pelayanan yang baik kepada masyarakat maka mereka tidak akan secara sadar dan secara otomatis akan membantu segala kebutuhan yang di inginkan oleh pihak sekolah, sehingga dengan demikian maka tidak akan sulit bagi pihak sekolah untuk meningkatkan mutu pembelajaran dan mutu pendidikan di sekolah.

Referensi

  • Core Business Solutions, Inc. (2003) .ISO in Education – An Overvie•w. Di ambil tanggal I Januari 2008 dari http://www.thecoresolution.com
  • Giding, Robelt Henriques dan Sherry Keith. (1991). Education, Management and Participation. Boston: Allyn Bacon
  • Indra Djati Sidi.2003. Menuju Masyarakat Belajar. Jakarta : Logos
  • ——Kepmendikbud No. 053/U/200 1 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM),
  • ——-Kepmendiknas No. 044/U/2002 dan UU Sisdiknas No. 20/2003
  • Lalu Sumayang.2003. Manajemen produksi dan Operasi. Jakarta : Salemba Empat
  • Marwata, (2007). Pengalaman dalam Pengembangan/Penyelenggaraan
  • Penjaminan Mutu Sekolah. Disapaikan dalam Seminar Nasional dalam rangka peningkatan kinetja lembaga pendidikan di Universitas Negeri
  • McLaughlin, M. W., & Talbert, J. E. (1993, March). Contexts that matter for teaching and learning: Strategic opportunities for meeting the nation’s educational goals. Stanford, CA: Stanford University, Center for Research On The Context of Secondary School Teaching.
  • Mustaqim, (2008). Peningkatan Mutu Pembelajaran Sekolah. Di http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/02/05/peningkatan-mutu-pembelajaran-di-sekolah/
  • ———-Permen Pendidikan Nasional nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi.
  • Prajogo, Daniel I. (200S). The Sustainability of ISO in a legal Service Organisation. The Service Industries Journal. Vol. 2S, No 5. 603 – 614.
  • Purkey,S. and Smith, M. (1983) “Effective schools: a review” The Elementary School Journal 83, 427-462
  • Rohiyat. (2008). Manajemen Sekolah. Bandung : Aditama
  • Rousseau. (1999). Encyclopedia of Philosophy of Education. Edisi 11110/1999. http://www.en.wikipedia.org/wikil
  • Sallis, E. (1993). Total Quality Manajement in education. London. Kogan
  • Sarbiran. (2008). Model Mutu Pendidikan, makalah Seminar nasional “Paradigma Baru Mutu Pendidikan di Indonesia” Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta Ke 45, Sabtu 25 April 2008.
  • Sudarwan Danim.2007.Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta : Bumi Aksara
  • Supriyanto, Eko. (2007). Pedoman Mekanisme Peningkatan Mutu Sekolah Melalui Penjaminan Mutu. Y ogyakarta: Flash
  • Susanto, Agung Budi, (2006). Penerapan Sistem manajemen mutu ISO 900 1:2000.
  • Menuju Pencapaian manajemen mutu total. Jakarta.
  • Umaedi, (1999). Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah. Sebuah pendekatan baru dalam pengelolaan sekolah untuk peningkatan mutu. Dirjed Dikdasmen.
  • UNESCO (2001) Final Report [of the] Second International Forum on Quality Improvement in Education: Policy, Research and Innovative Practices in Improving Quality of Education, Beijing, China, 12-15 June 2001. Bangkok: UNESCO.
  • Zamroni. 2007 . Meningkatkan Mutu Sekolah . Jakarta : PSAP Muhamadiyah
  • Zamroni. (2008). Kebijakan Peningkatan Mutu Sekolah di Indonesia. Makalah Seminar nasional “Paradigma Baru Mutu Pendidikan di Indonesia” Dies Natalis Universitas Negeri Yogyakarta Ke 45, Sabtu 25 April 2008.
  • ———(2003b) IW A 2: Quality management system – Guidelines for the application of ISO 9001-2000 in education. Geneva: ISO.org

About these ads

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Tags: , , , .

Tantangan Sektor Pendidikan bagi Kabinet Baru Menumbuhkan Civic Culture Melalui Masjid


ISSN 2085-059X

  • 407,368

Komentar Terakhir

Alfian HSB on Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 33 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: