Pendidikan Menabung

16 Februari, 2009 at 12:00 am

Oleh Andry Kurniawan ST
Pembina OSIS SMP Islam Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya

 

Suri tauladan dan lingkungan adalah dua faktor pendidikan yang paling baik bagi anak. Dua hal ini bisa diterapkan dalam mendidik anak untuk menabung. Bila kedua orang tua di rumah memberi contoh yang baik tentang berhemat dan menabung, niscaya anak dengan sendirinya akan mengerti makna sebenarnya tentang menabung.

Peran guru sebagai pendidik di sekolah juga sangat penting untuk memberikan bekal hidup kepada anak-anak tentang kehidupan. Bekal tersebut salah satunya adalah menabung. Bekal yang diberikan dengan baik sejak dini kepada anak, akan menentukan langkah anak ke depan.

Pendidikan menabung di sekolah dapat diawali dengan pola pembuatan “celengan” kelas. “Celengan” ini terbuat dari bahan plastik yang tidak mudah pecah dan bisa dibuka-tutup kembali. Dalam satu kelas terdapat sejumlah celengan yang jumlahnya sama dengan jumlah anak didik. Bentuk dan warna “celengan” dipilih yang menarik dan diusahakan berbeda tiap anak didik agar mudah dikenali. Dan tidak lupa masing-masing “celengan” diberi nama. Penempatan “celengan” diletakkan rapi di dalam kelas yang dapat terlihat setiap saat.

Di awal tahun pelajaran, anak didik mulai dikenalkan dengan fungsi “celengan” tersebut. Dan tak lupa dijelaskan tentang pentingnya menabung. Anak didik diberikan pengertian bahwa menabung sangat berguna bagi masa depan mereka. Tidak hanya itu dengan menabung berarti kita sudah “sedia payung sebelum hujan” ketika ada musibah menimpa kita atau orang-orang yang kita cintai.

Masing-masing anak didik dianjurkan untuk menyisihkan uang sakunya setiap hari untuk dimasukkan “celengan”. Uang saku yang disisihkan tidak mesti banyak, asalkan cukup dan tidak memberatkan. Anak didik diajarkan untuk menyisihkan dulu uang saku sebelum membelanjakan uang saku mereka. Bukan kebalikannya, bila ada sisa uang maka dimasukkan “celengan”. Hal ini penting untuk mengubah pola pikir anak tentang menabung.

Di samping itu, karena “celengan” diletakkan di dalam kelas yang terlihat oleh siapa saja, maka anak didik diajarkan untuk jujur. Tidak ada yang boleh mengambil “celengan” yang bukan miliknya. Kedisiplinan juga perlu ditekankan, dalam hal ini dengan teori “menyisihkan dulu baru membelanjakan”.

Setiap satu bulan sekali, “celengan” dibuka untuk dihitung jumlah uang di dalamnya. Masing-masing anak didik diberi tugas untuk menghitung uang tabungannya sendiri. Dan tak lupa guru memberikan semacam buku tabungan sederhana mirip tabel rekapitulasi untuk diisi oleh anak didik. Hal ini diperlukan memberikan tanggung jawab kepada anak didik untuk mengetahui jumlah tabungannya sendiri. Selain itu, dengan melihat rekapitulasi, anak didik diharapkan termotivasi untuk meningkatkan tabungannya.

Pendidikan menabung ini juga tidak melupakan sisi sosialnya. Anak didik diminta menyisihkan sebagian dari hasil tabungan mereka di “celengan” setiap bulan untuk dimasukkan ke kas kelas. Jumlahnya bebas, dasarnya hanyalah rasa ikhlas. Fungsi kas kelas ini adalah untuk membantu teman-teman atau keluarganya yang sedang ditimpa musibah. Kalaupun masih ada sisa, bisa dipakai untuk acara kelas di akhir tahun pelajaran.

Pelajaran pun berlanjut dengan pengenalan tabungan di Bank. Anak didik dijelaskan tentang keunggulan menabung di Bank. Selain lebih aman, menabung di Bank juga mendapatkan bunga atau bagi hasil. Banyak sekali Bank yang menyediakan jasa layanan tabungan khusus untuk anak-anak.

Untuk bulan pertama, anak didik diajak bersama-sama pergi ke bank sebagai bentuk metode contextual teaching learning (CTL). Mereka akan lebih paham bila pelajaran ini diberikan langsung dalam bentuk praktek di lapangan. Pembelajaran di bank akan disampaikan oleh guru dengan bantuan petugas bank.

Dalam bentuk pembelajaran ini, peranan guru akan digantikan oleh petugas bank. Anak didik akan lebih memahami tentang menabung, jika ada “second opinion” yang menguatkan apa yang telah diajarkan guru di sekolah. Selain itu anak didik juga diajarkan tentang nilai mata uang, jenis-jenis tabungan dan cara membuka tabungan. Yang tidak kalah menariknya adalah pelajaran “antri” pada saat ingin menyetorkan uang tabungan. Budaya “antri” ini perlu diberikan sejak dini, sebagai wujud disiplin suatu bangsa.

Bulan berikutnya, peranan orang tua sangat diperlukan. Guru di sekolah memberikan keteladanan dan ilmu di sekolah. Di rumah, diharapkan para orang tua juga memberikan keteladanan tentang menabung. Para orang tua hendaknya menemani anaknya menabung di bank. Disamping itu, kalau bisa orang tua juga memiliki tabungan sendiri, sehingga anak mendapat contoh langsung dari orang tuanya.

Orang tua juga hendaknya memberikan pendidikan menabung dengan mengenal pola menabung yang baik. Anak-anak perlu dikenalkan tentang pengembangan kebiasaan menabung uang untuk pembelian yang lebih besar. Misalnya, mereka ingin membeli sebuah mainan yang harganya agak mahal. Diusahakan agar mereka membeli sendiri uang saku mereka dengan cara menyisihkannya tiap bulan. Kalaupun uangnya kurang bisa ditambahkan oleh orang tua.

Konsep menabung dengan senang hati perlu juga dikenalkan kepada anak-anak. Jangan sampai anak-anak menganggap menabung adalah suatu paksaan. Anak-anak ditumbuhkan kesadaran dalam dirinya untuk gemar menabung. Kebebasan menentukan pilihan sendiri juga diajarkan dalam pola menabung ini. Jika seorang anak menginginkan sesuatu tentu mereka akan berpikir karena yang akan mereka pakai adalah uang mereka sendiri. Sehingga dalam diri anak akan terkonsep suatu pertanyaan apakah yang diinginkan mereka benar-benar keinginan mereka.

Kolabarasi antara guru, orang tua dan masyarakat (dalam hal ini pihak bank) diperlukan agar pendidikan menabung ini berhasil bagi anak-anak. Dengan kolaborasi semacam ini, diharapkan anak-anak mengerti tentang pentingnya menabung dan arti uang dalam kehidupan. E-mail: akar_comp@yahoo.com, pakandri@gmail.com

About these ads

Entry filed under: Artikel Guru Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tags: , , .

Kepala Sekolah Sebagai Leader dan Manajer Menjadi Guru Profesional


ISSN 2085-059X

  • 433,653

Komentar Terakhir

Alfian HSB on Surat Pembaca
Tamtomo Utamapati on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Waluyo on Surat Pembaca
Ali Syahbana on Surat Pembaca
Ida on Surat Pembaca
Mohamad Mahfudin on Surat Pembaca

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 34 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: